
Menyusul kemudian kelompok bahan makanan, yang mengalami inflasi sebesar 1,12 persen. SelanjutÂnya kelompok makanan jadi, minuÂman, rokok, dan tembakau menÂgalami penaikan harga 0,54 persen.
Sementara untuk kelompok keÂsehatan mencatatkan inflasi 0,37 persen, sedangkan kelompok peÂrumahan, air, listrik, gas, hingga bahan bakar peningkatannya menÂcapai 0,24 persen dan sandang sebesar 0,44 persen. Seiring dengan momentum masuknya tahun ajaran baru, kelompok pendidikan, rekreaÂsi, dan olah raga membukukan inÂflasi sebesar 0,51 persen.
Sementara untuk inflasi inti, BPS mencatat realisasi sebesar 0,34 persen pada Juli 2016. Secara kumuÂlatif, inflasi inti selam aperiode JanÂuari-Juli 2016 mencapai 1,88 persen.
Dari 82 kota yang disurvei BPS, lanjut Suryamin, sebanyak 78 kota mengalami inflasi dan hanya emÂpat kota yang mencatatkan deflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,34 persen dan terendah di Gorontalo sebesar 0,06 persen. Sementara, deflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 1,1 persÂen,†ujarnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan inflasi bulan lalu hanya berkisar 0,74 persen atau lebih rendah dari proyeksi sebelumÂnya, 1 persen. Koreksi tersebut terÂjadi akibat turunnya harga sejumlah barang, termasuk barang pangan.
“Seperti (harga) telur ayam itu turun,†ujar Gubernur BI Agus DW Martowardojo akhir pekan lalu.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















