Sulit untuk menentukan sejumlah variabel dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan. Sebab variabel yang akan dihasilkan dapat untuk menentuÂkan serangkaian strategi dan kebijakan. Khususnya penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan. Dari dimensi pendidikan misalnya, pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskiÂnan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produkÂtif yang terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan.
Faktor kultur dan struktural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting, yang menentukan tingkat keÂmakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada yang salah dan keliru dengan pendekatan tersebut. Tetapi dibutuhkan keterpaduan antara berbagai faktor penyebab kemiskinan. Antara lain faktor penyebab yang sangat banyak, dengan indikator-indikator yang jelas. Sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan, tidak bersifat temporer, tetapi permanen dan berkelanjutan. Kemiskinan menjadi pemicu kekerasan terhadap anak, perlakuan buruk sampai pada kekerasan fisik yang menÂimpa anak umumnya berlatar belakang kemiskinan.
Kemiskinan menjadi sumber utama terjadinya kriminalitas. Yang terbaru adalah kekerasan terhadap anak-anak Indonesia yang dilakukan orangtua, paman, bibi, kakak, bahkan neneka dan kakek yang seharusnya menjadi pelindung mereka. Kekerasan terhadap terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, seksual, emosional dan pengabaian terhadap hak anak.
Berbagai kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orangtua sendiri menjadi bukti peran keluarga dan masyarakat yang rapuh. Menurut data Komnas PerlindÂungan Anak, sebagian besar kekerasan terhadap anak dilakukan oleh perempuan, seperti ibu kandung, ibu angkat, ibu tiri, ibu guru, nenek dan tante. Para pelaku ini umumnya sering mendapat kekerasan dari kaum leÂlaki sebelumnya terutama suami atau ayah mereka yang mengalami masalah kemiskinan.
Kemarahan atas kenakalan anak biasanya memicu emosi orangtua untuk memukul atau melakukan keÂkerasan fisik lainnya. Suara tangisan anak biasanya membuat ketidaksabaran orangtua semakin bertambah. Kekerasan yang dialami anak akan diulang si anak yang bersangkutan ketika dewasa. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















