
Kondisi perairan laut Kuala Tungkal yang bersubstrat lumÂpur atau lumpur pasir, membuat wilayah perairan ini menjadi sarang udang ketak atau udang ronggeng, demikian masyarakat di sekitar biÂasa menyebutnya.
Udang Mantis yang memiliki bentuk fisik panjang dan memiliki banyak kaki ini memang jadi terlihat sexy dan kini menjadi primadona bagi para nelayan di Kuala Tungkal, selain sangat mudah didapat, si sexy ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Para nelayan kini giat memÂburu udang ketak, bahkan sejak 10 tahun terakhir sekitar 70% nelayan yang ada di Kuala Tungkal sudah lama melaut khusus untuk berburu udang ketak karena nilai ekonomis yang dihasilkan dibandingkan denÂgan menangkap ikan. Si Sexi mantis ini sangat laku di pasaran lokal yang akan dibeli oleh para toke yang akan membayar dengan nilai yang sangat tinggi. Hal ini dibenarkan oleh Dr. Mugi Mulyono dari Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, dahulu dikenal sebagai Akademi Usaha Perikanan (AUP) yang kampusnya terletak di daerah Jati Padang Pasar Minggu.
Kuala Tungkal merupakan habiÂtat udang mantis terbesar di IndoÂnesia, bahkan konon 60% ekspor udang ketak dari Indonesia ke HonÂgkong dan Taiwan berasal dari perÂairan yang terletak di Jambi ini.
Sore itu seorang nelayang puÂlang dengan suka cita karena udang ketaknya di bayar oleh seorang toke dengan harga Rp. 1,3 juta lebih. HarÂga udang ketak memang tidak dihiÂtung per kilo namun per ekor dan setiap ekor udang memiliki harga yang bervariasi, tergantung dengan ukuran yang sudah dipatok sepÂerti misalnya ukuran C, ukuran B, ukuran A, dan paling mahal adalah ukuran jumbo. Perbedaannya tiÂdak terlalu mencolok namun tetap memberikan keuntungan yang berÂlebih bagi nelayan yang selama ini selalu hidup kekurangan.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















