Kredit Valas Perbankan Menggeliat

Risiko kredit valas

Pada semester 2 2016 di­proyeksi risiko kredit valas akan terjadi di beberapa sek­tor seperti pertambangan dan perkebunan. Dengan mulai membaiknya harga komoditas diproyeksi pada semester 2 2016 penyaluran kredit valas akan membaik dibandingkan semester 1 2016.

Jika dilihat pada kelom­pok usaha bank, tercatat Bank Umum Kelompok Usaha III merupakan penyumbang terbesar penurunan kredit valas yatu sebesar 10,6% yoy. Sebagai gambaran, BUKU III merupakan penguasa pangsa pasar kredit valas yaitu ham­pir 50% dari total kredit valas perbankan Indonesia. Salah satu bank yang mengalami penurunan kredit valas dari BUKU III adalah Bank Perma­ta. Tercatat sampai semester 1 2016, kredit valas Bank Per­mata mengalami penurunan 24,05% yoy menjadi Rp 21,3 triliun.

Roy Arman Arfandy Direk­tur Utama Permata Bank men­gatakan, penurunan kredit va­las ini disebabkan karena dua hal pertama adalah aktifitas ekspor impor yang turun. Se­dangkan kedua adalah karena ketentuan atau regulasi Bank Indonesia bahwa kredit dalam negeri harus dalam mata uang rupiah. “Kredit dalam negeri ini adalah kredit yang ber­dasarkan kontrak dalam neg­eri atau bukan dengan pihak luar negeri,” ujar Roy, Jumat, (12/8).

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Rem Rekrutmen Honorer, Fokus Angkat P3K Penuh Waktu

Berbanding terbalik den­gan bank BUKU III yang men­galami penurunan kredit valas, tercatat BUKU IV teru­tama bank BUMN sampai Mei 2016 malah mencatatkan ke­naikan kredit valas. Tercatat kenaikan kredit valas BUKU IV per Mei 2016 adalah sebe­sar 8,63% yoy. BUKU IV meru­pakan penguasa pangsa pasar kredit valas terbesar kedua setelah BUKU III yaitu seesar 33% dari total kredit valas perbankan.

BACA JUGA :  Perlintasan KRL Tanpa Palang di Bojonggede Telan Korban

Salah satu bank BUKU IV yang mencatatkan kenaikan kredit valas adalah BNI. Ter­catat bank berkode BBNI ini sampai semester 1 2016 men­catatkan kenaikan kredit valas sebesar 15,71% yoy menjadi Rp 47,1 triliun. Menurut Direktur Korporasi BNI Herry Sidharta ada tiga faktor yang mempen­garuhi permintaan kredit valas.

Pertama adalah kebijakan pemerintah dan prospek in­dustri terkait valas secara umum. Kedua adalah imple­mentasi PBI No 17/3/2015 un­tuk kewajiban penggunaan rupiah dalam transaksi do­mestik, dan ketiga adalah fluk­tuasi sektor yang berhubun­gan dengan ekspor impor diantaranya adalah pertam­bangan, minyak dan gas dan agribisnis. “Pada semester 2 diproyeksi kredit valas akan naik 12-15% dari semester 1 2016,” pungkas Herry. (Nan­da/Net)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================