taposSEBUAH gagasan menarik tentang pemberdayaan pelaku ekonomi mikro datang dari Haryo Putra Nugroho Wibowo. Sarjana S2 marketing lulusan Australia ini, mengajak seluruh peternak lele dikawasan Bogor untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi melalui program inti flasma.‘’Saya akan mengajak seluruh petani lele untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama.

Saya akan mulai mengembangkan pusat pembibitan dan penggemukan lele di Tapos, Desa Tapen ini,’’ujar Putra, panggilan Haryo Putra Nugroho Wibowo pada acara perkenalan program pemberdayaan pelaku ekonomi mikro untuk kesejahteraan rakyat, di Tapos Bogor, Senin (26/9/2016). Acara yang dihadiri tamu terbatas dari kalangan penggiat peternak lele setempat, pengasuh pondok pesantren, dan para calon penggerak program budidaya peternakan lele rakyat ini, berlangsung santai dan penuh kekeluargaan.

Selain menebar benih lele di kolam yang kelak akan menjadi pusat riset dan pengembangan ikan lele ini juga dilakukan dialog seputar masalah yang dihadapi peternak lele. Salah satu masalah serius yang dihadapi para peternak lele rakyat adalah mahalnya harga pakan. Akibatnya, peternakan lele rakyat ini tidak efisien karena harga produksinya menjadi sangat mahal. Itu sebabnya, Putra yang tak lain adalah cucu Sigit Soeharto ini, juga bertekad akan mengembangkan produksi pakan lele alternatif.

‘’Untuk menjawab masalah mahalnya bi- a y a pakan, saya  juga akan mengembangkan pakan lele alternatif yang jauh lebih murah namun tetap berkualitas,’’ kata Putra, ‘’Jadi, di Tapos ini juga akan dikembangkan produksi pakan lele yang lebih efisien,’’ tambahnya. Yang menarik, Putra juga memiliki gagasan untuk meningkatkan nilai jual ikan lele dengan mengembangakan produksi hilirnya. Menurut dia, kandungan protein ikan lele sangat tinggi. Namun, image ikan lele ini sangat jelek, yakni ikan yang sangat jorok.

Itu sebabnya, harga lele sangat rendah dibandingkan ikan salmon atau ikan dori dan ikan lele identik dengan konsumsi masyarakat bawah.‘’Melalui program ini juga saya bersama peternak lele lainnya akan mengubah mind set masyarakat tentang ikan lele. Kita akan memproduksi ikan lele yang bersih dengan menciptakan pakan yang berkualitas tinggi,’’ kata Putra, ‘’Kalau harkat ikan lele kita angkat dan image-nya kita ubah menjadi ikan yang tak kalah mutunya dari ikan salmon, maka harga jualnya akan tinggi,’’tambahnya.

Tentang kapasitas pasar ikan lele di Jabodetabek sendiri, ternyata sangat besar yakni 250 ton perhari. Sementara para peternak lele di Jawa Barat sendi baru mampu memasok sekitar 100 ton perhari, sisanya dipasok dari peternak lele di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Itu sebabnya, Putra sangat optimis bahwa budaya ikan lele dengan pola kemitraan inti flasma akan sangat menguntungkan para peternak ikan lele. ‘’Saya ingin meneruskan cita-cita eyang saya, yakni membantu meningkatkan ekonomi rakyat lewat kegiatan yang bisa saya jangkau sendiri,’’ ujar Putra, cicit lelaki pertama Pak Harto, Presiden RI ke-2.