alfian mujani 240Orang ini sangat benci tikus. Jangankan bertemu langsung dengan tikus, mendengar nama tikus saja dia langsung melengos alias putar badan, pergi. Benci itu sering kali  tak membutuhkan alasan konkret, sebagaimana cinta itu hadir tanpa proses penelitian yang logis.

Suatu hari, si pembenci tikus itu tiga jam mengejar seekor tikus yang ada di rumahnya, namun tidak tertangkap. Tikus itu lebih lihai berlari dan bersembunyi, hingga pembenci tikus itu kekurangan oksigen untuk bernafas. Kesabarannya pun habis duluan. Marahlah dia, lalu dibakarlah rumahnya demi untuk membunuh seekor tikus itu.

Apa hubungan kisah di atas dengan kehidupan kita? Rumah dalam kasus ini adalah kehidupan kita. Anggap juga tikus itu adalah orang yang kita benci. Alangkah bodohnya kita kalau “membakar” kehidupan kita, tidak menikmati hidup kita, hanya gara-gara seorang yang kita benci ada di sekitar kita. Biarkan saja orang yang kita benci. Kalau tak bisa dimaafkan, ya lupakan saja. Jangan sampai orang yang dibenci malah menari di atas derita kita. Nikmati saja hidup dengan mengembalikan semuanya kepada Allah.