2581515971523-11_05_2010Yuska Apitya

[email protected]

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian perkasa.  Beberapa hari terakhir ini terus melibas uang Paman Sam. Masyarakat pun melepas dolar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menilai, penguatan rupiah yang terlalu signifikan, sebenarnya tidak baik bagi perekonomian Indonesia.  “Saya rasa masyarakat harus paham kurs menguat bukan sesuatu yang baik,” ungkapnya di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (5/10/2016).

Mirza menjelaskan, Indonesia sekarang berada dalam kondisi defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa. Dengan rupiah yang kompetitif seharusnya mampu mendorong ekspor dan mempersempit defisit. “Jadi suatu negara yang ekspor impor barang jasanya defisit justru harus mendorong ekspor dan mengendalikan impor. Jadi kurs, instrumen dipakai untuk menyeimbangkan sehingga defisit tidak terlalu besar,” paparnya.

Maka dari itu, rupiah diharapkan bisa terkendali sesuai dengan fundamentalnya. Bila defisit terlalu besar, justru ke depannya membuat ekonomi Indonesia menjadi lebih buruk. “Kurs itu harus menggambarkan fundamental ekonomi. Fundamental ekonomi Indonesia seperti apa ekspor impornya barang dan jasa. Kondisi sekarang masih defisit, beda dengan Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, surplus. Kita masih defisit,” tandasnya.

BI juga memastikan kondisi ekonomi nasional sekarang lebih tenang. Hal ini yang membuat ekonomi Indonesia bisa digenjot lebih tinggi, khususnya dorongan dari kebijakan moneter. “Situasi ekonomi sekarang lebih tenang dan terkendali,” ungkap Mirza.

Indikatornya adalah ekonomi mulai tumbuh secara perlahan dengan proyeksi di 2016 sebesar 5,1%. Kemudian inflasi akhir tahun diproyeksikan 3,1-3,2% dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sebesar USD 21 miliar.

Maka dari itu, kata Mirza, BI berani melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan sejak beberapa kuartal terakhir. Sekarang BI 7 days repo rate sudah sebesar 5%. “BI lakukan pelonggaran kebijakan moneter baru sekarang, karena 2013 memang tidak ada ruangnya. Kalau dilonggarkan saat itu, malah membuat situasi malah tambah jelek. Sejak 2015 bisa lebih baik dan 2016 kita longgarkan,” paparnya.

Dari sisi fiskal, Mirza menjelaskan bahwa sudah ada perbaikan yang cukup baik. Bila tadinya ada risiko pada defisit anggaran, namun melalui kebijakan penghematan dan suksesnya program pengampunan pajak atau tax amnesty, maka defisit bisa dikendalikan pada level 2,5-2,7%. “Tadinya bisa lebih 3%. Tapi karena penghematan dan tax amnesty maka defisit bisa dikendalikan 2,5-2,7%. Jadi fiskalnya baik,” terang Mirza.

Sektor rill juga mulai terlihat positif. Kalangan dunia usaha sudah lebih bisa bersifat ekspansif, dengan merencanakan berbagai kegiatan investasi dan impor. Apalagi pemerintah sudah mengeluarkan 13 paket kebijakan ekonomi yang langsung menyasar sektor rill. “Waktu kurs goyang, gara-gara kondisi AS sulit diprediksi, importir tak bisa lakukan aktivitas dan perencanaan. Sekarang situasi sudah tenang dan orang sudah bisa lakukan kembali melakukan impor dan kegiatan ekspansif lainnya,” ujar Mirza.

Baca Juga :  Resep Masakan Brokoli Goreng Tepung

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia selalu dihantui dengan isu kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) oleh Federal Reserve (The Fed). Setiap kali para petinggi dari The Fed rapat, maka kurs rupiah beserta mata uang lainnya selalu bergejolak.

Isu tersebut juga yang menjadi salah satu komponen yang mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dua pekan terakhir, rupiah menguat dan membuat dolar AS lengser dari Rp 13.000. Sepekan terakhir, dolar AS kembali menguat dan kembali di posisi Rp 13.000. “Kenapa selalu bicara suku bunga AS? Suka tidak suka, perdagangan dunia sampai sekarang yang digunakan adalah dolar Amerika Serikat (AS),” ungkap Mirza.

Di samping itu, banyak aktivitas lainnya yang juga menggunakan dolar AS. Di antaranya adalah investasi, pasar modal hingga utang luar negeri juga sebagian besar menggunakan dolar AS. “Investasi di dunia masih dalam dolar AS. Bicara portofolio inflows, itu adalah dolar AS. Bicara kredit utang luar negeri itu sebagian besar dolar AS,” terangnya.

Mirza menjelaskan, isu kenaikan suku bunga AS mencuat sejak 2013. Saat AS memutuskan untuk kembali menggenjot perekonomian lewat kebijakan moneter. Namun hal tersebut baru terealisasi pada 2015. “Dari 2013 itu kita masih menunggu terus kenaikan suku bunga tapi tidak terjadi. Justru yang terjadi adalah volatility. Maka periode itu kurs mengalami gejolak,” ujar Mirza.

Ke depannya, menurut Mirza, kenaikan suku bunga acuan AS sudah lebih bisa diprediksi. Sehingga gejolak yang timbul pada pasar keuangan, khususnya nilai tukar tidak terlalu besar. “Sejak Desember 2015, maka kemudian kurs bisa jauh lebih stabil,” terangnya.

Suku Bunga AS

BI memproyeksikan, akhir tahun ini suku bunga acuan AS akan kembali naik. Sementara untuk 2017, kenaikan diproyeksikan sebanyak dua kali dari yang sebelumnya dibayangkan tiga kali.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Juda Agung menyatakan, proyeksi tersebut seiring dengan kondisi makro ekonomi AS yang belum sesuai harapan. Untuk pertumbuhan ekonomi saja diproyeksi hanya 1,6% dari sebelumnya 2,2%. “Kami perkirakan The Fed naikkan sekali di Desember dan tahun depan, kami lihat prediksinya kelihatan 2 kali,” tegas Juda.

Jika terlalu kuat, rupiah bisa berdampak buruk terhadap bisnis importir Indonesia karena ongkos menjadi tinggi. Sebaliknya jika terlalu lemah, rupiah juga mengganggu bisnis eksportir karena pemasukan berkurang.

Baca Juga :  Jungkook BTS Menato Matanya, Ini Alasan Dia

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Suryadi Sasmita, pemerintah harus menjaga nilai tukar rupiah stabil dan bertahan di angka yang menguntungkan kedua belah pihak.

“Dolar itu ada dua pihak. Pihak eksportir nggak mau dolar melemah. Karena nanti rugi. Pihak importir maunya melemah karena dia bisa beli barang dari luar negeri lebih murah. Kalau dolar kan high cost. Sekarang tinggal kepentingannya. Menurut saya pemerintah harus jaga, jangan terlalu rendah, jangan terlalu tinggi,” katanya di Gedung Sudirman, Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Kamis (6/10/2016).

Menurutnya, rupiah yang terus menguat dalam beberapa hari terakhir merupakan efek psikologis dari pengusaha yang cenderung menjual dolar, sehingga rupiah menjadi semakin menguat.

“Ini psikologis saja. Orang jadi takut. Jual dolar semua. Apalagi di media dikatakan sampai 2017 ini masih menurun. Jadi takut dan banyak yang jual. Jadi psikologis. Jadi orang semakin jual, rupiah semakin kuat jadinya,” pungkasnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah sempat menguat cukup signifikan terhadap dolar AS hingga mencapai level Rp 12.900-an. Namun penguatan rupiah yang terlalu signifikan, ternyata tidak baik bagi perekonomian negara seperti Indonesia. Sebab saat ini Indonesia berada dalam kondisi defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa, sehingga seharusnya mampu mendorong ekspor dan mempersempit defisit tersebut.

Lantas berapa nilai tukar rupiah yang ideal terhadap dolar AS menurut pengusaha? Suryadi Sasmita mengatakan, angka paling ideal adalah Rp 13.000. “Kalau menurut saya di Rp 13.000,” katanya saat ditemui di Gedung Sudirman, Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Kamis (6/10/2016).

Menurutnya, saat ini banyak pihak yang ragu akan nilai tukar yang terus berubah. Ditambah lagi oleh efek euforia nasionalisme karena rupiah yang terus menguat. Hal ini menyebabkan banyak pengusaha yang menjadi cenderung menjual dolar. “Kalau yang sekarang ya orang juga ragu-ragu. Ini psikologis jadinya. Orang jadi takut. Jual dolar semua. Jadi orang semakin jual, rupiah semakin kuat jadinya,” ungkapnya.

Lanjut dia, pengusaha akan mengambil batas nilai tukar rupiah di angka Rp 12.700. Hal ini menurutnya berdasarkan pengalaman yang dirasakan para pengusaha di tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya dolar AS akan cenderung kembali naik ketika dolar AS telah menyentuh angka tersebut. “Pengusaha akan tetap melihat, bahwa kurs ini paling jatuhnya di 12.700. Itu pemikiran mereka. Jadi kalau sebelum Rp 12.700 mereka akan masih semangat jual. Tapi begitu Rp 12.700, pasti akan beli lagi,” tandasnya.(*)