20161014_133854a

JAKARTA, TODAY – Jakarta berubah menjadi lautan manusia. Sekitar 100 ribu umat Islam berkumpul di Masjid Istiqlal selepas solat Jumat. Mereka bergerak menuju Jalan Medan Merdeka Selatan, Balaikota tempat Ahok berkantor.

Massa umat Islam tersebut  dihimpun oleh  Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ). Mereka mengecam Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) lantaran telah menghina kitab suci Alquran, terutama surat Al-Maidah Ayat 51. Mereka juga menuntut Ahok lengser dari jabatannya sebagai gubernur.

Koordinator Umum GMJ Jafar Shodiq mengatakan, aksi ini murni terkait dugaan penistaan agama dan tak ada unsur politik.  “Ini urusan akidah, urusan penistaan Alquran. Tidak ada sangkut paut dengan Pilkada DKI,” kata Jafar di halaman Masjid Istiqlal, Jakarta, kemarin.

Massa berkumpul di Istiqlal untuk salat Jumat. Mereka rencananya akan long march ke gedung sementara Bareskrim di kawasan Gambir dan Balai Kota di mana Ahok, sapaan Basuki, berkantor.

Jafar menyebut, aksi ini tak hanya diikuti oleh organisasi masyarakat dari Jakarta, namun juga dari massa dari luar ibukota. Massa yang membanjiri Jakarta ini berasal dari 150 Ormas. “Dari Banten ada, dari Garut juga ada. Sudah banyak yang hadir. Lebih dari 100.000 orang,” kata Jafar mengklaim.

Tuntutan utama aksi ini adalah agar hukum ditegakan oleh kepolisian terkait dugaan penistaan agama oleh Ahok.

Jafar mencotohkan kasus penistaan agama di Bali di mana ada seorang perempuan yang dihukum 14 bulan penjara karena menghina tempat saji umat Hindu. Seharusnya keputusan itu jadi yurisprudensi dalam penegakan hukum.
Ahok memang sudah dilaporkan oleh sejumlah pihak ke kepolisian. Oleh karena itu, aksi ini nantinya juga akan menanyakan sejauh mana proses hukum terhadap Ahok tersebut berjalan.

Kericuhan sempat terjadi saat ribuan orang dari Gerakan Masyarakat Jakarta mendatangi kantor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, Jumat sore kemarin. Kericuhan dipicu ketika kepolisian memutar alunan salawat asmaul husna agar massa tenang.
Ribuan umat yang sudah tiba di depan Balai Kota dan memenuhi semua ruas Jalan Merdeka Selatan. Sambil menunggu kedatangan rombongan utama, massa meneriakkan yel-yel anti Ahok seperti “Bunuh Ahok sekarang juga” dan “Gantung Ahok sekarang juga”. Suasana memanas ketika sebagian pendemo berteriak mendesak aparat membuka gerbang Balai Kota. Merespons itu, kepolisian memutar alunan doa asmaul husna dari pengeras suara. Namun, suasana justru semakin memanas.
Para pendemo tak menerima polisi memutar alunan pujian itu. Pasalnya, mereka ingin meneriakkan yel-yel anti Ahok. Pendemo akhirnya melemparkan botol-botol air mineral ke dalam Balai Kota. Sejumlah wartawan terkena lemparan tersebut. Tetapi, suasana ricuh itu tak berlangsung lama.
Untuk mengantisipasi kerusuhan di pusat pemerintahan DKI Jakarta itu, ratusan personel kepolisian dari unsur Sabhara dan Brimob sudah disiagakan.
Dalam orasinya, pendiri Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab mengultimatum kepolisian agar menindaklanjuti laporan soal dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok. “Kalau Ahok tidak diperiksa dalam satu minggu ke depan, kami bakal masuk Balai Kota,” kata Rizieq, kemarin.

Baca Juga :  Kerusakan Akibat Gempa Pangalengan Bandung Hari Ini

Ia bahkan mengancam akan mengepung Istana Negara, tempat berkantornya Presiden Jokowi. “Jangan korbankan negara hanya untuk Ahok. Kalau kami dikhianati oleh negara, kami akan datangkan massa  10 kali lipat dari sekarang,” kata Rizieq.

Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Amien Rais ikut turun ke jalan bersama massa “Aksi Bela Islam” mendatangi kantor Badan Reserse Kriminal Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (14/10/2016). Mereka menuntut agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dihukum seberat-beratnya terkait kasus dugaan penistaan agama. Amien yang berada di tengah-tengah massa ikut menyampaikan orasi. Dia meminta agar polisi segera menindaklanjuti laporan masyarakat atas pernyataan Ahok. “Pak Kabareskrim segera proses hukum Ahok dipercepat,” kata Amien.

Terkait kasus ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj melarang warga NU ikut demonstrasi terkait pernyataan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. “Warga NU saya larang, Anshor saya larang, pemuda-pemuda NU, mahasiswa NU, PMII saya larang, enggak akan ada yang turun,” kata Said usai bertemu Menko Polhukam Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (14/10/2016).

Baca Juga :  Resep Masakan Makaroni Tumis Ayam

Said mengatakan larangan demo di kantor Ahok hari ini untuk menghindari fitnah. Saat ini, kata Said, fitnah telah ditujukan kepada Ahok. Dia khawatir fitnah akan lebih besar lagi dan mengancam keamanan serta ketenangan berbangsa. “Iya kalau demonya baik, kalau ditumpangi pihak ketiga yang politis, bukan hanya masalah surat Al Maidah, targetnya ingin mengubah keadaan, luar biasa,” kata Said.

Meskipun melarang warga NU untuk demonstrasi, Said tidak memaksa kelompok lain untuk mengikuti imbauannya. Unjuk rasa baginya sah saja dilakukan asalkan tetap bermartabat, beretika, dan tidak menimbulkan kerusuhan maupun pengerusakan fasilitas umum. “Kalau terpaksa harus demo, itu sah-sah saja. Silakan demo itu merupakan hak semua orang,” katanya.

Said mengatakan, Ahok sendiri telah meminta maaf atas pernyataannya. Bahkan NU telah menerima permintaan maaf itu. Namun, Majelis Ulama Indonesia tidak menerima permintaan maaf Ahok. “Mau bagaimana lagi, orang kalau sudah mengaku salah, berarti keseleo, tidak sengaja, hal yang sangat mungkin, terjadi dilakukan oleh siapa saja,” kata Said.

Dia juga berharap agar Ahok lebih hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan di kemudian hari. Kasus beberapa waktu lalu, kata Said, seharusnya dijadikan pelajaran berharga bagi Ahok. “Pemimpin harus bermartabat, lisannya harus baik, berbudaya, jadi teladan, contoh bagi rakyatnya, perilakunya, ucapannya, sikapnya. Itu kita sayangkan, bukan benci,” ujarnya.

Proses hukum atas pernyataan Ahok sedang berjalan hingga kini. Said pun berpendapat, seharusnya masyarakat menunggu proses hukum tersebut daripada main hakim sendiri. “Lebih baik diproses, kan berangkat dari praduga tak bersalah kalau diperiksa, berangkat dari nol, daripada masyarakat main hakim, itu yang bahaya sekali,” kata Said.

Terpisah, Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin meminta umat Islam tidak turun ke jalan sebagai reaksi pernyataan Ahok soal ayat Alquran. Ia berharap, kasus ini diserahkan kepada penegak hukum karena sudah ada laporan masuk. “Masyarakat agar tenang dalam menyampaikan pendapat dan menyerahkan persoalan tersebut kepada polisi,” kata Ma’ruf.  (Yuska Apitya)