cvh9atiuaaeai6wBANDUNG, TODAY—Banjir besar yang melumpuhkan Kota Bandung menyisakan tumpukan lumpur di seantero kota. Ribuan rumah harus dibersihkan dalam kejadian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hasil pendataan Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Jawa Barat menyebutkan, kerugian materi ditaksir tembus Rp16 miliar. Satu orang meninggal dunia.

“Sekarang sudah mulai normal keadaannya. Kendaraan sudah bisa lagi melintas di daerah yang kemarin paling parah banjirnya seperti Pasteur dan Pagarsih. Tapi lumpur memang masih menumpuk sampai 10-15 meter di beberapa titik,” kata Haryadi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Jawa Barat, kemarin.

Hujan deras dan lama yang turun sepanjang hari Senin (24/10/2016), mengakibatkan banjir besar yang tak pernah terjadi sebelumnya. “Ini akibat meluapnya Sungai Citepus, dan bobolnya irigasi Citepus. Meluapnya sungai juga disebabkan oleh dangkalnya sungai dan banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai. Sementara drainase perkotaan tidak mampu menampung aliran permukaan dari hujan yang lebat,” kata Haryadi.

Ia menambahkan, ketinggian banjir bervariasi antara 50 hingga 200cm. Walikota Bandung Ridwan Kamil, yang sedang berada di Belanda menyampaikan permintaan maafnya melalui Twitter. Menurutnya, Pemda Kota Bandung sudah melakukan berbagai hal mengantisipasi keadaan seperti ini, namun ternyata belum cukup.

Sekitar seribu rumah di empat wilayah mengalami kerusakan, selain sebuah irigasi dan sebuah sekolah. “Seorang warga meninggal dunia. Menurut informasiyang kami terima, ia terpeleset saat hendak menolong seseorang yang terperangkap banjir. Ia terbawa arus, namun jenazahnya sudah ditemukan, dan sudah pula diserahkan kepada pihak keluarganya,” tambah Haryadi.

Korban sudah diketemukan di depan SMPN 15 Bandung dan sudah diserahkan ke pihak keluarga. Haryadi menyebutkan pula, mobil dan sebuah sepeda motor yang terseret arus sudah ditemukan.

Ini merupakan banjir besar yang keempat yang melanda Jawa Barat tahun ini, setelah Kabupaten Bandung yang merupakan kawasan rutin terdampak banjir, Subang, dan Garut.

Baca Juga :  Resep Masakan Tumis Sosis Saus Tiram

“Tota kerusakan dan kerugian sementara adalah Rp 16.817.250.000,” kata Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Jawa Barat Alif Nur Anhar, Selasa (25/10/2016).

Terjangan banjir yang melanda Kota Bandung pada Senin (24/10/2016) kemarin menyebabkan kerusakan cukup besar. Cepatnya luapan air membuat warga tak sempat menyelamatkan harta benda.

Dari sejumlah wilayah yang tergenang, Kelurahan Arjuna dan Pajajaran menjadi daerah yang paling parah terkena banjir. “Total rumah terendam dari dua kelurahan adalah 513 unit dengan nilai kerusakan dan kerugian sementara Rp 10.388.250.000,” ucap Alif.

Sementara di Kelurahan Cibadak, terjangan banjir membuat 300 rumah terendam dan menyebabkan kerugian hingga Rp 6,075 miliar.  “Selain itu, satu unit sekolah dengan enam ruang kelas dan satu ruang guru mengalami kerusakan dan kerugian sekira Rp 294 juta. Korban jiwa nihil, tidak ada titik pengungsian,” katanya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas 1 Bandung Ani Rukmini mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai kemungkinan hujan ekstrem. Banjir hebat yang menggenangi Jalan Pasteur, Bandung, bisa terulang akibat cuaca ekstrem selama beberapa bulan ke depan. “Tetap harus waspada untuk saat ini sampai beberapa bulan ke depan, apalagi untuk daerah-daerah yang rawan longsor dan banjir,” kata Ani, kemarin.

Ia mengatakan BMKG mencatat hujan ekstrem di Kota Bandung menyebabkan sejumlah jalan terendam banjir. “Saat kejadian, hujan yang terjadi pukul 11.40-13.10 WIB itu tercatat (intensitasnya) di kami ini 77,5 milimeter. Itu kategorinya sangat lebat sekali, ekstrem,” katanya.

Menurut Ani, hujan dengan intensitas 20 milimeter dan berdurasi satu jam saja, sudah masuk kategori intensitas lebat. “Kami sudah mencatat saat itu sekitar 1,5 jam saja sudah 77,5 milimeter. Curah hujannya luar biasa, ekstrem,” ujar dia.

Baca Juga :  Konsumen Tikam Kurir Pengantar Paket, Diduga Tak Mau Bayar Paket COD

Dia menambahkan, hujan dengan intensitas ekstrem semacam itu pernah terjadi beberapa tahun lalu. Hujan ekstrem dengan intensitas jauh lebih besar juga menyebabkan Jalan Pasteur terendam air saat itu. “Saya lupa tahun berapa terjadinya. Di daerah Pasteur, mobil sedan pernah terendam setinggi atapnya. Kalau tidak salah, intensitas hujannya klebih besar dari hari ini,” tuturnya

Ani memperkirakan pada hari ini terjadi curah hujan sedang sampai lebat untuk seluruh wilayah Bandung sejak pagi hingga malam. Namun kondisi global akibat pengaruh La Nina disertai dengan kondisi regional tekanan rendah di bagian barat Banten dan Australia memicu penambahan curah hujan di sekitar Jawa Barat, khususnya Bandung. “Ada faktor yang menyebabkan curah hujan saat ini tinggi,” kata dia.

Menurut Ani, saat ini, wilayah Jawa Barat umumnya sudah memasuki musim hujan, kecuali daerah utara Bekasi yang akan memasuki musim hujan sekitar November nanti. “Hampir semua wilayah Jawa Barat sudah memasuki musim hujan. Hanya Bekasi bagian utara yang akan memasuki (musim hujan) sekitar November, tapi tidak berarti tidak ada hujan,” ucapnya.

Khusus Bandung Raya, awal musim hujan yang biasanya dimulai Oktober, bergeser ke September. Puncak curah hujan pun diperkirakan maju. “Biasanya puncak curah hujan di Bandung Raya Desember-Januari-Februari, tapi ada kemungkinan maju,” ujar Ani.

Ani mengatakan kombinasi faktor global dan regional saat ini memicu pembentukan awan lebih banyak. “Angin tidak begitu kencang sehingga tidak berpengaruh terhadap pembentukan awan sehingga pertumbuhan awan benar-benar besar sehingga curah hujan menjadi luar biasa,” tandasnya.(Yuska Apitya)