Deddy-MizwarBANDUNG TODAY- Pemilihan Gubernur Jawa Barat masih setahun lagi digelar pada 2018 tapi tiga figur sudah diprediksi meramaikan persaingan pesta demokrasi lima tahunan itu. Ketiganya adalah petahana Deddy Mizwar, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (RK), dan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Hal tersebut merujuk kepada hasil survei Indonesia Strategic Institute (Instrat) atas persepsi publik terhadap Kepemimpinan Jabar dengan melibatkan 1.600 responden, margin of error 2,49 persen pada akhir November lalu yang dirilis di Bandung, kemarin. “Top of mind dari publik terkait bakal kandidat Gubernur Jabar mendatang adalah pada tiga tokoh tersebut meski untuk kepopuleran ada kandidat lain yang mendapatkannya,” tandas peneliti Instrat, Jalu Pradono, kemarin.

Salah satu parameter yang dijadikan rujukan adalah simulasi Pilgub dengan melibatkan 13 calon. Selain ketiga figur, nama-nama beken lainnya di antaranya artis Desi Ratnasari, anggota DPR Rieke Diah Pitaloka, Tubagus Hasanuddin, dan Dede Yusuf Macan Effendi, dan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Hasilnya, tiga figur tersebut tampil teratas dengan RK sebagai pemuncak melalui dukungan 28,1 persen, diikuti Deddy Mizwar (15,5 persen) dan Dedi Mulyadi (8 persen).

RK memang menjadi favorit mengingat secara elektabilitas pun tertinggi dengan dukungan 33,1 persen. Untuk popularitas, Deddy Mizwar yang berlatarbelakang artis menempati posisi teratas dengan dukungan 94 persen.

Mengingat Pilgub baru tahun depan digelar, kata Jalu, ketiga tokoh tersebut masih mempunyai kesempatan untuk menggelar strategi terbaiknya guna meraih kepercayaan publik termasuk penggunaan sosial media. “Perlu diingat pula bahwa baru 10 persen dari publik Jabar yang menyatakan sudah mantap memiliki pilihan tokoh untuk bakal calon Gubernur Jabar,” tandasnya.

Baca Juga :  Bom Bunuh Diri di Masjid Pakistan, Pelanggaran Keamanan

Itu pun dengan catatan sejumlah tantangan dituntaskan sejumlah kandidat. Di antaranya adalah posisi Deddy Mizwar dan Ridwal Kamil sebagai calon non parpol sehingga sangat membutuhkan dukungan mereka. Beda halnya Dedi Mulyadi yang juga menjabat Ketua Partai Golkar Jabar.

Ditanya pendapat terkait hasil survei Instrat, Deddy mengaku sampai saat ini masih tenang dan konsentrasi menyelesaikan amanah yang dibebankan di pundaknya sebagai Wakil Gubernur Jabar.

Deddy mengaku hasil survei itu dia anggap sebagai sesuatu yang biasa saja. Meskipun di tempat lain namanya selalu masuk ke dalam daftar tiga besar. “Jabatan saya ini amanah dari rakyat dan terikat dengan Allah, saya disumpah di bawah naungan Al Quran. Saya ingin menyelesaikan amanah saya, karena saya disumpah menggunakan Al Qur’an sementara negara rupanya masih belum melindungi kesucian Al Quran. Masih belum kelar-kelar ini,” kata Deddy.

Seiring berjalannya waktu tentu Deddy ingin mempertimbangkan berbagai macam aspek dari beragam sumber. Dia akan terus mendengarkan aspirasi-aspirasi terkait Pemilihan Gubernur Jabar 2018.

Baru setelah itu dia akan betul-betul memutuskan apakah akan maju atau tidak, tentunya jika ada yang mendukung. Lantas bagaimana jika ada partai politik yang datang melamar dan memberikan dukungan kepada Deddy? “Ya, kalau ada yang melamar saya berarti kan mereka memberikan amanah kepada saya. Tapi kan yang namanya politik bisa berubah kapan saja. Tidak ada yang pasti. Sekarang mendukung, nanti bisa berubah,” ujarnya.

Baca Juga :  Sopir Angkot Perkosa Pelajar di Sergai Hingga Hamil, Dinikahi Siri lalu Ditinggal Kabur

“Kalau ada yang datang lamar saya, ya saya akan hargai dan terima. Tapi saya ga terlalu ambisi, kalau ga ada yang dukung ya sudah istirahat saja. Tidur,” tambahnya.

Si Jenderal Naga Bonar ini menegaskan sikapnya tentang Pemilihan Gubernur Jabar tahun 2018 yang sudah ditentukan Allah di Lauhul Mahfudz tentang siapa yang akan menjadi gubernur selanjutnya.

Menurutnya kalaupun dia menjadi Gubernur Jawa Barat berikutnya, maka itu sudah menjadi suratan takdir yang telah tertulis sebelum dunia diciptakan. Pun demikian jika bukan dia yang menjadi Gubernur selanjutnya. “Bahkan bisa saja kan saya jadi gubernur tapi kemudian meninggal dunia. Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz,” ujarnya.

Dia tidak berkeinginan untuk ngotot maju dalam pertarungan Pilgub Jabar 2018. Pasalnya, jika manusia terlalu berambisi mengejar posisi maka yang terjadi adalah alam terjadi politik transaksional antara si calon dengan partai politik pendukungnya.  “Saya tidak mau hal itu terjadi karena akan berdampak buruk,” ujar pemeran Bang Haji dalam sinetron religi khas bulan Ramadhan ‘Para Pencari Tuhan’ yang tayang setia menanti santap sahur umat Islam.

Andai pun ada yang ingin melamar Deddy maju mencalonkan diri sebagai Gubernur Jabar berikutnya, dia ingin dipasangkan dengan siapa? “Itu tentu ada diskusinya. Kita akan menentukan hal itu melalui dialog dengan berbagai pihak. Tentunya saya terima masukan dari para pendukung saya, dengan catatan tidak mengesampingkan pendapat pribadi saya,” tandasnya.(Yuska Apitya)