ekonomiJAKARTA TODAY- Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diproyeksi mencapai 5,2%. Target ini lebih tinggi dibanding proyeksi pemerintah sebesar 5,1%.

“Estimasi ekonomi 2016 tumbuh 5,0% sedikit lebih baik dari tahun 2016, tahun ini sekitar 5,2% sedikit lebih optimistis daripada pemerintah 5,1%,” kata Ekonom SKHA Consulting Eric Sugandi, di Hotel Borobudur, Selasa (17/1/2016).

Proyeksi ini, kata Eric tidak terlepas dari naiknya perekonomian global yang diprediksi 2,3% di 2016 dan 2017 ini diprediksi 2,7%. Hal ini didorong dari emerging market atau negara berkembang karena ditopang membaiknya harga komoditas sehingga diharapkan dapat berdampak pada ekspor.

Namun, yang masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 menurutnya konsumsi rumah tangga, investasi, dan pengeluaran pemerintah. Selain itu, sektor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah manufaktur, perdagangan, transportasi, dan konsumsi.

“Sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi adalah manufaktur, perdagangan, transportasi, dan konsumsi. Ke empat sektor ini untuk menggenjot ini ada di sana bagaimana kebijakan moneter bisa mendukung,” ujarnya.

Baca Juga :  Bank Pembiayaan AS, Mulai Mengurangi Kredit Kendaraan

Di samping itu, sektor yang memberikan kontribusi besar terhadap GDP atau Gross Domestic Product yaitu industri manufaktur, pertanian, dan perdagangan.

Selain itu, dia memprediksi inflasi tahun ini naik menjadi 3,5% dari sebelumnya akhir tahun 2016 3,0%. Hal ini didorong dari konsumsi domestik, dan kenaikan harga komoditas dan kenaikan harga yang diatur pemerintah seperti tarif dasar listrik (TDL). “Inflasi tahun lalu di akhir tahun ada 3,0%, tahun ini saya perkirakan naik 3.5%. Faktor pendukungnya karena aktivitas ekonomi domestik tumbuh. Paritisipan warga, di sisi lain ada kenaikan komoditas, ada kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah seperti tarif dasar listrik walau impact-nya enggak banyak,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengatakan, pun ekonomi hanya tumbuh 5%, ini menjadikan Indonesia bisa hampir setara dengan China dan India sebagai dua negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.

Baca Juga :  SEO yang Baik Harus Berdampak Bagi Bisnis

“Di banding negara emerging kita termasuk tertinggi di seluruh dunia. Dalam hal ini kita masih perlu memperbaiki, tapi kita bukan masuk liga paling bawah,” jelasnya, kemarin.

Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh sisi produksi dan permintaan. Sri Mulyani menuturkan dalam dua tahun terakhir sisi produksi cukup berat untuk tumbuh. Sedangkan sisi permintaan masih baik, mengingat konsumsi rumah tangga tumbuh stabil. “Sisi produksi 2015-2016 adalah dua tahun sangat berat,” kata Sri.

Selain pertumbuhan ekonomi, data lainnya juga tercatat cukup baik. Dari sisi inflasi dengan realisasi 2016 sebesar 3,02% dan nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Nilai tukar rupiah kita masih sedikit alami apresiasi, indikator penanaman modal baik dari dalam dan luar juga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki bekal cukup baik untuk 2017,” tandasnya.(Yuska Apitya/dtk)