JAKARTA TODAY- Bank Indonesia (BI) mewaspadai peningkatan inflasi yang diproyeksi bakal lebih tinggi tahun ini. Gubernur BI Agus D.W Martowardjojo mengatakan ada beberapa faktor yang bisa mengerek laju inflasi lebih kencang tahun ini hingga menembus batas 4 persen. Termasuk harga pangan yang kerap menjadi biang keladi kenaikan inflasi. Pasalnya, Agus menyebut gejolak harga pangan mampu menyumbang tingkat inflasi cukup tinggi yakni hingga 5,9 persen. Sementara inflasi administered prices hanya mencapai 0,2 persen.
Oleh sebab itu, Agus meminta pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga terkait bisa saling berkoordinasi menjaga ketersediaan pasokan pangan untuk mencegah inflasi yang tinggi.  “Mau dibikin operasi pasar pun, itu takutnya harganya akan tetap naik. Jadi ketersediaan pasokan itu tetap penting Ini yang perlu dikoordinasikan,” ujar Agus, Jumat (20/1).
Hal kedua yang ditekankan Agus adalah masalah distribusi. Ia mengimbau, jangan sampai distribusi pangan secara merata di daerah terlambat dan mampu mengurangi jumlah pasokan pangan. Ini bisa membuat harga pangan melambung tinggi. “Perlu jaga adalah kalau terjadi musiman hujan panjang atau ada virus, kalau memang terjadi kekurangan pasokan tentu kita tidak ingin impor. Tapi kalaupun pasokan tidak ada, dan harus impor, impor tidak boleh terlambat agar harga tidak naik,” jelasnya.
Agus mengatakan, di samping masalah harga pangan, masyarakat Indonesia juga harus dipusingkan oleh sejumlah penyesuaian harga barang yang diatur pemerintah (administered price).
Di tahun 2017, BI menyebut sumber inflasi administered price berasal dari penetapan tarif baru untuk listrik golongan 900 VA yang dicabut subsidinya oleh pemerintah. Selain itu penyesuaian biaya administrasi STNK dan BPKB oleh Polri juga dinilai memberi tekanan pada inflasi. (Yuska Apitya)

Baca Juga :  Realme 10 Pro 5G Edisi Coca-cola Bakal Launching Bulan Ini, Berikut Spesifikasinya