Ada Kartel Mainkan Harga Daging Ayam

BOGOR TODAY- Nasib peternak ayam mandiri atau yang biasa disebut peternak rakyat saat ini terbilang memperihatinkan. Harga ayam hidup (live bird) yang jatuh hingga Rp 11.000/kg di kandang, membuat kelangsungan usaha mereka cukup terpukul.

Sekretaris Direktorat Perdangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indrasari Wisnu, mengungkapkan penyebab gejolak harga daging ayam yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini karena permainan broker alias pedagang perantara.

“Karena masih ada yang main-main di tengah, ada broker dan pedagang pangkalan, baru sampai ke pedagang (pasar). Ini dugaan kita ada yang bermain di tengah, kenapa harga bisa turun jatuh, kemudian naik tinggi,” kata Wisnu di kantor Kemendag, Jakarta, Selasa (28/2/2017).

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Menurut dia, Kemendag sendiri masih mancari solusi bagaimana memecahkan masalah lonjakan harga yang terjadi di tengah ini. Selain itu, broker juga berperan membuat disparitas yang tinggi antara harga ayam hidup di kandang, dengan daging ayam di tingkat pedagang pasar.

Harga ayam hidup di tingkat peternak jatuh hingga Rp 11.000/kg, namun di sisi lain, harga daging ayam di pasar di banderol di kisaran Rp 34.000/kg.

“Bagaimana cara potong yang di tengah agar harga live bird dan karkas tidak jauh berbeda. Nanti kita carikan solusinya, saya akan sampaikan ke Menteri Perdagangan. Ini dugaan di kita, sudah ada indikasi di tengah ini yang bisa kerek harga di pasar dan di peternak,” ucap Wisnu.

BACA JUGA :  Vertu AlphaFold Resmi Meluncur, Ponsel Lipat Premium dengan AI Asisten Pribadi Seharga Rp 110 Juta

Salah satu caranya, lanjut dia, Kemendag akan memasukkan harga live bird dalam revisi Permendag Nomor 63 Tahun 2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Penjualan di Tingkat Konsumen.

“Kapan keluarnya harus selesaikan dulu di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian. Pada dasarnya Permendag sudah siap, tapi sebelum diteken Pak Menteri Perdagangan, harus selesaikan masalah birokrasi dulu,” terang Wisnu. (Yuska Apitya/dtk)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================