Raja Salman Kepincut Bantu UKM Indonesia

BANJARNEGARA, JATENG, 23/1 - PERAJIN POCI. Seorang perajin menyelesaikan proses pembuatan poci yang terbuat dari tembikar dan biasanya digunakan untuk menyeduh teh, di sentra kerajinan keramik Usaha Karya di Desa Purwareja Klampok, Klampok, Banjarnegara, Sabtu (23/1). Perajin keramik di sekitar wilayah Purwareja Klampok, Banjarnegara, yang merupakan pemasok poci terbesar se Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 30.000 set per bulannya merasa terancam mengadapi persaingan dengan produk China dan meminta pemerintah secepatnya mengatur regulasi yang melindungi industri tersebut. FOTO ANTARA/Idhad Zakaria/ss/NZ/10

JAKARTA TODAY- Pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi akan menandatangani 10 nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Hal tersebut dilakukan pada kunjungan kenegaraan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud di Indonesia. Dari 10 nota kesepahaman tersebut salah satunya adalah kerja sama dalam hal pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta, mengungkapkan pihaknya sudah mengetahui adanya penandatangan nota kesepahaman tentang UKM antara Indonesia dan Arab Saudi. “Jadi intinya kami sepakat untuk memfasilitasi UKM dalam hal akses pasar masing-masing negara, seperti melakukan business matching (kolaborasi bisnis), promosi, pameran dan studi banding, serta seminar,” ujar Wayan.

Wayan menambahkan, selama ini sudah ada produk-produk UKM dari Indonesia yang mampu menembus pasar Arab Saudi. “Ada banyak mulai dari furnitur, kerajinan tangan, aksesoris, fashion juga, utamanya muslim fashion,” jelas Wayan.

Dengan adanya penandatangan nota kesepahaman dengan Arab Saudi, Kemenkop UKM akan memperluas jangkauan pasar produk UKM di Arab Saudi yang saat ini baru di kota Jeddah.

BACA JUGA :  Reka Bogor dan PT Bank Mizuho Indonesia Gelar Program Literasi dan Inklusi Keuangan

“Tentunya akan diperluas, karena selama ini baru di Jeddah, nanti bisa jadi banyak seperti Mekkah, Madinah, atau dilokasi lain jadi diperluas pasarnya,” paparnya.

Kemenkop UKM juga akan mendorong produk UKM yang produknya memabg diperlukan di Arab Saudi.

“Jadi produk-produk yang dibutuhkan disana, umumnya yang banyak diminati disana, kaya yang sudah ada seperti furniture, kerajinan aksesoris, muslim fashion,” ujarnya.

Wayan menjelaskan, setelah ditandatanganinya nita kesepahaman tentang UKM antara Indonesia dan Arab Saudi, akan dilaksanakan walking group (pembahasan) terkait detil kerja sama yang akan dilaksanakan kedua negara.

“Dengan adanya MoU ini nanti ada walking group dibentuk, jika ada yang berkaitan dengan tarif (ekspor), mudah mudahan diberikan keringan,” jelasnya.

Pihaknya berharap, dengan dilakukannya kerja sama tersebut maka akan semakin meningkatkan akses pasar UKM Indonesia di pasar global.

BACA JUGA :  Reka Bogor dan PT Bank Mizuho Indonesia Gelar Program Literasi dan Inklusi Keuangan

“Kami berharap Indonesia menjadi kiblat fashion untuk dunia, utamanya dari Arab dulu, kalau sudah tembus kan nanti negara-negara lain pasti bisa, selama ini Qatar juga sudah, kemudian Uni Emirat Arab (UEA) juga sudah dilakukan,” pungkasnya.

Berdasarkan data BPS, nilai total perdagangan non-migas Indonesia-Arab Saudi periode 2011-2015 memperlihatkan pertumbuhan positif sebesar 3,89 persen per tahun.

Rata-rata nilai ekspor non-migas Indonesia ke Arab Saudi pada periode 2011-2015 tercatat sebesar 1,83 miliar dollar AS per tahun. Sementara itu, rata-rata nilai impor non-migas Indonesia dari Arab Saudi tercatat sebesar 921,23 juta dollar AS per tahun pada periode yang sama.

Sementara itu, produk ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi pada 2015 adalah kendaraan bermotor, minyak kelapa sawit, tuna, karet dan produk karet, plywood, kertas dan produk kertas, bubur kertas, arang kayu, serta tekstil dan produk tekstil.(Yuska Apitya)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================