Harga Batu Bara Semakin Terperosok

(FILES) In this photograph taken on July 27, 2007, Indian workers use heavy machinery to shift a pile of coal at an open cast mine owned by The Sinagareni Collieries Company Limited (SCCL) at Godavarikhani, some 250 kilometers east of Hyderabad. Human Rights Watch has blasted the Indian government on June 14, 2012, for failing to regulate the country's "out of control" mining industry which it said fuelled corruption and damaged local communities. The report from New York-based group said it was "hard to overstate" the scale of lawlessness in the multi-billion-dollar mining sector, with grave consequences for human rights and the environment. AFP PHOTO/Noah SEELAM/FILES

JAKARTA TODAY- Harga batu bara sedikit melemah dalam 3 bulan terakhir. Berdasarkan data Kementerian ESDM, harga batu bara acuan pada Maret 2017 turun ke US$ 81,9 per ton dari sebelumnya US$ 83,32 per ton pada Februari. Bahkan harga batu bara sempat melompat sampai di atas US$ 100 per ton pada Desember 2016.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia, menjelaskan tren penurunan dalam 3 bulan terakhir ini karena perubahan kebijakan pemerintah China.

Pada akhir tahun lalu, pemerintah China memangkas produksi batu bara di dalam negerinya sebesar 4,2%. Total produksi batu bara Negeri Tirai Bambu itu mencapai 3,6 miliar ton per tahun. Pengurangan produksi 4,2% membuat pasokan batu bara dunia terpangkas 151 juta ton.

BACA JUGA :  Harga Honda CRF250 Series Naik, CRF250 Rally Kini Hampir Tembus Rp 100 Juta

Tapi kini pemerintah China secara bertahap kembali menaikkan produksi batu bara di dalam negerinya hingga ke tingkat normal. Meroketnya harga batu bara membuat biaya produksi listrik di China juga naik, menurunkan daya saing industri mereka.

“Pemerintah China secara bertahap mengembalikan kebijakan pengurangan jam kerja industri batu bara mereka sehingga berangsur menuju normal,” kata Hendra, Kamis (9/3/2017).

BACA JUGA :  Vertu AlphaFold Resmi Meluncur, Ponsel Lipat Premium dengan AI Asisten Pribadi Seharga Rp 110 Juta

Di sisi lain, pemerintah China juga memangkas pertumbuhan ekonomi sehingga mengurangi aktivitas pabrik-pabrik di sana. Akibatnya, konsumsi batu bara mengalami penurunan. Permintaan turun, sementara produksi naik.

Faktor lainnya adalah berakhirnya musim dingin. Permintaan batu bara setiap tahun mencapai puncaknya saat musim dingin. Sekarang sudah mulai memasuki musim semi.

“Periode Februari biasanya penggunaan batu bara secara perlahan mulai kurang lebih rendah dibandingkan awal musim dingin,” tutupnya. (Yuska Apitya/dtk)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================