
Seperti yang diketahui bersama adanya deklarasi Minahasa Merdeka merupakan buntut dari penahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Deklarasi tersebut bermula dari aksi lilin di sejumlah daerah di Indonesia. Namun di Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) menyikapinya lebih ekstrem. (Jawapos.com, 17/05/17).
Masih mengutip dari Jawapos.com (17/05/17), Menurut Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Fahmi Salim, adanya persitiwa tersebut diduga ada korelasi antara aksi bakar lilin para pendukung Ahok dengan gerakan separatis dan makar di sejumlah daerah di Indonesia. Dan ia menyebut, aksi tersebut telah mematahkan tuduhan makar dan anti kebhinekaan yang selama ini disematkan pada aksi umat Islam. Sebab ternyata para pendukung Ahok yang justru terang-terangan mendeklarasikan untuk memisahkan diri dari NKRI.
Adanya peristiwa tersebut menjadi alarm bagi pemerintah dan polri bahwa di depan mata ada ancaman yang sangat serius yang juga perlu ada tindakan tegas. Dengan diksi  gebuk tersebut tentu juga layak disasar bagi mereka yang sudah terang-terangan ingin memisahkan diri dari NKRI. Tidak bisa hanya ormas yang belum tentu terbukti ingin memecah-belah negara kemudian disasar dengan kata “gebukâ€, namun yang terang-terangan justru didiamkan. Apalagi ramai diberitakan sikap Kapolri yang dikutip dari Republika.co.id (16/05/17) dalam memandang peristiwa tersebut merupakan sikap spontanitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan harus didahului tindakan persuasif. Ini merupakan kebalikan sikap terhadap setiap aksi umat Islam yang selalu dituduh adanya makar.
Selain peristiwa Minahasa Merdeka, tentu kasus semisal korupsi yang menjangkiti para wakil rakyat yang terbukti merugikan negara, kebijakan liberal yang menyengsarakan rakyat, dan tindakan teror yang mengancam keamanan negara pun harus disasar dengan “gebukâ€. Masyarakat tentu mengharapkan sikap yang sama dari pemerintah dan polri dalam memandang setiap peristiwa. Karena adanya sikap yang sama akan menurunkan tensi yang terjadi di akar rumput. Dan ini yang banyak diharapkan oleh masyarakat bawah terhadap setiap sikap dari pemerintah dan para penegak hukum di negeri ini.
Pada akhirnya adanya diksi gebuk yang diucapkan oleh Presiden Joko Widodo tidak hanya menyasar beberapa kelompok yang belum tentu terbukti bersalah, namun mendiamkan setiap aksi yang terang-terangan bisa mengancam negara. Dan tentunya diharapkan setiap sikap dari pemerintah dan polri merupakan sikap yang objektif dan tidak terkesan tebang pilih. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















