
“Sekalipun dimasak sampai matang, mungkin bakterinya akan mati, tapi ya percuma karena kandungan proteinnya sudah hilang. Belum lagi nanti kebanyakan akan mengeluarkan aroma tak sedap, sama seperti kita mengonsumsi ayam tiren, enggak gizinya, justru malah membawa penyakit,” terangnya lagi.
Masih kata dia, dampak dari bakteri Salmonella biasanya membuat seseorang menjadi mual, muntah-muntah, lalu diare. Selanjutnya, suhu tubuh akan meninggi hingga menyebabkan orang yang mengonsumsi telur pecah menderita typus.
“Bakteri Salmonella itu akan menyerang saluran pencernaan. Jadi kita mengimbau masyarakat agar memperhatikan kesehatan, jangan mengonsumsi telur pecah meski harganya jauh lebih murah dari telur yang bagus dan normal. Sebaiknya dicari alternatif lain sebagai asupan protein,” pungkasnya.
Sebelumnya diketahui, penjualan telur pecah di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Ciputat dan Pasar Serpong terus meningkat. Para pembeli rata-rata memburunya lantaran harga yang lebih murah, yakni sekitar Rp22.000 per kilo, dibandingkan harga telur normal yang kini telah mencapai Rp32.000 per kilo.
“Iya harganya lebih murah, dan kebanyakan pembelinya itu orang yang usaha warung makan seperti saya ini, atau pedagang lainnya yang butuh campuran telur, ada juga yang buat dikonsumsi pribadi,” ucap salah seorang pemilik usaha warung makan di daerah Serpong. (net)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















