
IPB terus berupaya menumbuhkan aktivitas dan jiwa kewirausahaan bagi lulusan perguruan tinggi untuk menjadi entrepreneur yang nantinya mampu menciptakan lapangan pekerjaan. IPB telah mengembangkan beberapa kebijakan dan program terkait kewirausahaan dalam penguatan SDM melalui agri-technosociopreneur dalam menyongsong revolusi industri 4.0.
“IPB siap mencetak SDM yang kompeten dan mampu menghadapi tantangan persaingan global tanpa menghilangkan norma dan budaya Indonesia. Ke depan, IPB memainkan peran-peran kekinian yang selalu berpegang teguh kepada visi dan misi IPB, dengan langkah-langkah strategis dan konkrit,†janjinya.
Rata – rata negara maju memiliki 14 persen penduduknya sebagai entrepreneur. Sedangkan Indonesia masih terus berpacu menuju angka tersebut. Meskipun demikian, kita harus optimis untuk mendukung pemerintah dalam menciptakan entrepreneur melalui lulusan IPB sehingga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan mampu bersaing sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
“IPB sebagai bagian dari komponen bangsa mempunyai tanggungjawab untuk turut berkontribusi dalam peningkatan daya saing tersebut. Adanya program-program entrepreneurship yang diusung oleh IPB masih perlu terus ditingkatkan pada masa-masa mendatang,†katanya.
Dalam kesempatan itu, Menteri Perindustrian RI, Ir. Airlangga Hartarto, MBA, MMT menjelaskan, revolusi industri mulai dari revolusi industry pertama hingga ke empat. Revolusi industry ke-4 mengaburkan batasan antara lingkungan fisik, digital dan biologis.
“Revolusi ke 4 ditandai dengan terciptanya system cyber-physical dimana terjadi konektivitas antara manusia, mesin, dan data yang terjadi disegala aspek. Lima teknologi utama dalam industry 4.0 yaitu Artifical intelligence, Internet of things, wearble, advanced robotics, serta 3D printing,†kata Airlangga.
Dampak langsung industry 4.0 terhadap pembangunan di Indonesia yaitu dapat merevitalisasi sector manufaktur Indonesia melalui inisiatif “Making Indonesia 4.0†serta Indonesia dapat meraih kembali posisi Net Export. Sedangkan dampak tidak langsung dari adanya revolusi industry 4.0 yaitu dapat meningkatkan kekuatan keuangan negara, belanja negara, investasi, perekonomian yang kokoh, serta pasar tenaga kerja yang lebih baik. Lima sektor utama yang telah dipilih sebagai sector prioritas untuk “Making Indonesia 4.0’’ yaitu makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, elektronik dan kimia.
“Dalam mengimplementasikan Industri 4.0. Kementrian Perindustrian telah menetapkan 10 prioritas nasional untuk ‘Making Indonesia 4.0’’yaitu perbaikan alur aliran material, mendisain ulang zona idustri, akomodasi standar sustainability, pemberdayaan UMKM, membangun infrastruktur digital nasional, menarik investasi asing, peningkatan kualitas SDM, pembentukan ekosistem inovasi, menerapkan insentif investasi teknologi serta harmonisasi aturan dan kebijakan,†ungkapnya.
Perlu adanya kolaborasi antara Pemerintah, Perguruan Tinggi serta industri untuk menciptakan tenaga kerja industri yang kompeten dalam menghadapi Indonesia 4.0. Adanya pendidikan vokasi baik ditingkat sekolah atas maupun perguruan tinggi yang berbasis kompetensi yang link and match dengan industri merupakan salah satu bentuk implementasi dalam pengelolaan sumber daya manusia yang siap menghadapi industri 4.0. “Strategi yang dilakukan untuk mendorong industri dalam implementasi industri 4.0 yaitu dengan telah mendirikan start up incubation seperti Bandung Techno Park serta Tohpati Center,†ujarnya.
Di tempat yang sama, Achmad Zaky, Co Founder dan CEO Bukalapak, menceritakan sejarah berdirinya Bukalapak. Dimulai pada tahun 2010, yang berawal dari sebuah kos-kosan dimulai dan saat itu hanya memiliki 5 UKM yang bermitra, kemudian ditahun 2011 Bukalapak sudah memiliki karyawan walaupun jumlahnya masih sedikit yaitu hanya 5 orang karyawan, ditahun tersebut jumlah UKM yang bermitra meningkat menjadi 10.000 UKM. Pada Tahun 2018, jumlah pelapak yang bermitra dengan kami sudah mencapai 3 juta pelapak yang yang telah terhubung dengan 50 juta pengguna baik UMK maupaun lainnya.
“Bukalapak juga berkomitmen untuk membangun Indonesia melalui teknologi dan pemberdayaan UMKM Indonesia. Bukalapak menjadikan revolusi industri Indonesia 4.0 sebagai peluang. Peluang tersebut merupakan bagian optimisme dari sebuah tantangan di era 4.0 dan dikuatkan dengan dukungan proaktif dengan berbagai pihak untuk menjalin networking yang luas guna meningkatkan dayasaing bisnis. Hal ini merupakan tujuan hidup dalam memacu semangat dan menjadikan hidup lebih bermakna dengan memaknai revolusi teknologi 4.0 sebagai peluang dalam bisnis di Indonesia,†tutur Achmad Zaky.
Acara ini dihadiri sekitar 700 peserta yang terdiri dari pakar atau pemerhati pembangunan ekonomi dan bisnis nasional, eksekutif dan profesional dari berbagai perusahaan swasta maupun BUMN, birokrat pemerintahan, alumni program Doktor Manajemen Bisnis dan Magister Manajemen SB-IPB, mahasiswa dan sivitas akademika IPB dan Para mitra atau Stakeholder SB-IPB. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















