Lingkungan dan Kota Berkelanjutan

Kawasan pertanian seperti sawah bisa tergusur menjadi kawasan perumahan, rumah sakit, dan sektor lain. Nampak bahwa sektor pertanian dianggap kurang penting padahal berfusngi untuk melestarikan ekologis. Setidaknya setiap lahan terbuka tadi dapat menyerap air hujan, ruang hijau, dan tempat menikmati alam semesta bagi warga.

Selanjutnya, hukum ekologis seperti implementasi undang-undang 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup perlu diperkuat. Pembangunan industri perlu dikaji apakah sudah menerapkan amanah dari isi undang-undang ini. Ditambah lagi dengan pengelolaan sampah belum berkelanjutan. Sampah masih dianggap benda tak berguna sehingga selalu berakhir dipembuangan sampah.

Hal ini sebagai bukti bahwa perilaku sosial dikota belum ramah lingkungan sehingga setiap orang saat berbelanja masih enggan untuk membawa keranjang sendiri. Padahal tanpa disadari setiap pembeli telah memproduksi sampah. Satu sisi penangan sampah tak cukup sampah organik diubah menjadi gas dan pupuk tetapi perlu perbaikan sosial kepada warga.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Cetak Sejarah, Rapat Paripurna HJB ke-544 Digelar di Pelosok Kabupaten Bogor

Berkaitan dengan masalah ini maka terdapat beberapa langkah mitigasi bencana dikota. Pertama, memanen air hujan dan redesign rumah secara berkala. Pemerintah harus segera mengubah design banyak rumah warga menjadi rumah ramah air. Modifikasi rumah agar memiliki saluran untuk menampung air dan memberikan fasilitas sehingga setiap warga bisa menampung air hujan.

Lebih baik lagi jika terdapat satu waduk untuk setiap desa sehingga tampungan air hujan bisa dipakai untuk warga terdekat dan tak perlu beli air. Kedua, memperbanyak ruang resapan air. Saat daerah sudah sempit maka gerakan pembuatan lubang biopori dan kawasan hijau sangat perlu.

Pemerintah juga harus mengidentifikasi rumah-rumah yang masih punnya halaman. Kemudian, berikan pohon secara gratis dan hijaukan dengan rerumputan. Lebih baik lagi kalau pohonnya pohon mangga sehingga menghasilkan uang setelah berbuah.

BACA JUGA :  Rudy Susmanto Tegaskan Skywalk Tegar Beriman Simbol Kolaborasi dan Infrastruktur Inklusif

Aksi ini juga bisa dilakukan dengan menempeli tumbuh-tumbuhan jenis rerumputan pada dinding jalan raya, tiang jalan layang, dan menghijaukan dibawah kolong jembatan jalan raya serta layang.  Ketiga, pengembangan industri pedesaan.

Banyak kawasan desa di daerah luar Jawa sepi penduduk maka membangun industri ke daerah tersebut sangat membantu perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kedepannya, penduduk kota dipindahkan ke desa industri. Pemerintah bisa melakukan ini dan meninggikan gaji didesa sehingga banyak para sarjana dan orang yang dikota ingin pergi ke desa.

Terakhir, membangun fasilitas desa seperti kota mulai dari pusat perbelanjaan, pendidikan dan rumah sakit. Akhirnya perkotaan tidak menjadi pilihan bagi orang didesa untuk ke kota. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================