SOTR waktu dan tempatnya juga pas dengan dunia anak muda, yaitu kegiatan nongkrong, kumpul, ngerumpi dan konvoi dengan sepeda motor. Sesuai dengan perkembangan jaman dan gaya hidup anak muda komunitas motor (bersifat positif) dan gang motor (bersifat negatif) berkembang pesat bagai jamur dimusim hujan.

Kalau malam libur jam 24.00 ke atas para komunitas motor dan gang motor ini pada nongkrong di pinggir jalan, orang nongkrong di pinggir jalan, meski tidak melakukan kegiatan negatif, tapi paling kegiatannya tidak bermanfaat, misal ngobrol, makan, minum, merokok, main games, main kartu dan lain-lain. Kecil kemungkinan misal, mereka membicarakan dan membahas hal-hal demi kemajuan bangsa dan Negara.

Bahkan kalau kumpul-kumpul di malam hari dengan banyak orang rawan untuk berbuat negatif, bukankah kebanyakan kejahatan terjadi pada malam hari. Apalagi kalau di tempat tersebut ada mirasnya, maka kemungkinan akan terjadi tindak kriminal, pelecehan dan kekerasan sexual, ajang vandalisme, tawuran (yang paling sering terjadi) bahkan pembunuhan. Dan sekarang sedang marak geng motor yang sangat ganas dengan  membawa senjata tajam.

BACA JUGA :  Cemilan Rumahan dengan Donat Labu yang Sedang Viral Kelezatannya

Saatnya sekarang kita ganti dari Sahur On The Road menjadi Sahur On The Mosqoe dengan memakmurkan Masjid, karena Masjid itu adalah rumah Allah yang penuh keberkahan. Jika sebagaian besar orang tahu  bahwa Masjid adalah tempat keberkahan, maka Masjid pastilah akan penuh setiap hari. Tidak seperti sekarang, Masjid hanya penuh kalau shalat jum’at, shalat tarawih dan shalat 2 hari raya.

Ketiga, budaya petasan dan kembang api pada puasa dan lebaran.  Sejarah petasan bermula dari Cina. Sekitar abad ke-9, seorang juru masak secara tak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam  yakni  kalium nitrat, belerang (sulfur), dan arang dari kayu (charcoal) yang berasal dari dapurnya. Ternyata campuran ketiga bahan itu mudah terbakar.

Jika ketiga bahan tersebut dimasukan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya yang lalu dibakar dan akan meletus dan mengeluarkan suara ledakan keras yang dipercaya mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan jenis ini dipercaya dipakai juga dalam perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan, dan upacara-upacara keagamaan.

BACA JUGA :  Menu Makan Malam dengan Pepes Tahu Kemangi yang Simple dan Sederhana

Baru pada saat dinasti Song (960-1279 M) didirikan pabrik petasan yang kemudian menjadi dasar dari pembuatan kembang api karena lebih menitik-beratkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di angkasa hingga akhirnya dibedakan. Tradisi petasan lalu menyebar ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Membeli petasan dan kembang api adalah suatu pemborosan, padahal pemborosan itu adalah sifat dari setan. Apakah tidak lebih bagus, dari pada membeli petasan dan kembang api yang rawan bahaya dan mahal, kita ganti dengan memukul bedug dan kentongan yang gratis dan tanpa bahaya. Jayalah Indonesiaku. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua
============================================================
============================================================
============================================================