
“Tapi sayangnya belum ada aturan yang spesifik yang mengatur tentang kota mandiri ini, yang ada hanya UU perumahan permukiman dan Permendagri No 9 tahun 2009 tentang PSU, dan itu sangat umum sekali,†kata Hari.
Meski begitu, lanjut Hari, saat ini pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri sedang menyusun Peraturan Pemerintah tentang Perkotaan yang salah satunya mengatur tentang kota mandiri tersebut.
“Baru berupa PP, maunya sih UU, tapi mudah mudahan dengan adanya ini minimal bisa mengatasi soal kisruh-kisruh yang terjadi di Sentul City misalnya,†kata Hari.
Sementara itu Ny Heni (77), warga Sentul City mengatakan sebelum tinggal di Sentul City, dirinya mendiami sebuah perumahan di kawasan Baranangsiang. Setelah pengembang perumahan tersebut menyerahkan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) ke Pemkot Bogor masalah baru muncul.
“Sebelum diserahkan, semua pengelolaan lingkungan dikerjakan developer. Setelah diserahkan yang ngurus Ketua RT. Ketua RT saya di komplek saya tinggal dulu pusing ngurus sampah, keamanan tetek  bengek. Di Sentul City saya diangkat jadi Ketua RT  enak karena hanya  melayani warga ngurus KTP dan KK karena yang lain sudah di urus sama Sentul City,†ujarnya.
Karena banyak masalah yang terjadi setelah fasos fasum diserahkan ke Pemkot Bogor, dirinya dan keluarga memutuskan pindah ke Sentul City.
“Saya mendapat kenyamanan tingal di Sentul City. Di sini tinggal duduk manis perbanyak ibadah, tinggal bersilaturahmi dan menikamati hidup.  Kalau kita ingin nyaman harus bayar. Mahal? Ya relatif. Menurut saya iuran BPPL di sini wajar wajar saja kalau di  banding seperti BSD, Gading Serpong,†ujarnya. Hal senada diungkapkan Erwin Lebbe, Ketua Ketua Paguyuban Warga Sentul City (PWSC).
“Kami meminta PT SGC tetap melayani kami baik soal air bersih dan pengelolaan lingkungan. Kami tidak peduli dengan putusan MA. KWSC itu mewakili siapa? Kami ini berdiri karena ada konflik ini. Kami ini yang didukung mayoritas warga,†katanya.
Erwin berharap adanya perdamaian antara KWSC dengan PT SC untuk kebaikan semua warga Sentul City.
“Mereka mengatakan berdamai lah ngapain ribut-ribut mulu. Mereka malu seolah-olah di Sentul City tempat orang yang suka ribut. Padahal yang ribut suma sedikit. Karena ribut-ribut ini membuat investasi mereka yang sudah membeli rumah di SC jadi terganggu,” ujarnya (Iman R Hakim)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














