MAKASSAR TODAY – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis profil kemiskinan Sulsel per September 2019. Data tersebut menunjukkan jumlah penduduk miskin di Sulsel mencapai 759.580 jiwa. Angka itu berkurang sebanyak 20.060 jiwa jika dibandingkan dengan angka kemiskinan per September 2018 yakni 864.510 jiwa.
Menurut BPS angka kemiskinan Sulsel menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2015. Meski demikian, gini ratio Sulsel malah mengalami kenaikan. BPS mencatat persentase penduduk miskin Sulsel turun dari September 2018 sebesar 8,87% menjadi 8,56% pada tahun 2019.
“Penduduk miskin Sulsel per September 2019 sebesar 8,56% atau sebanyak 759.580 jiwa. Pergerakan angka penduduk miskin menarik karena sejak tahun 2015 terus turun,†kata Kepala BPS Suslel, Yos Rusdiansyah, di Makassar.
Dia menjelaskan beberapa indikator pendukung turunnya angka kemiskinan Sulsel terlihat dari ekonomi Sulsel di triwulan III 2019 yang juga tumbuh positif sebesar 7,21%. Juga didukung oleh laju pertumbuhan struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Sulsel pada periode yang sama. Di antaranya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (3,19%), perdagangan (8,03%), konstruksi (10,88%), serta akomodasi dan makan minum (4,93%).
Selain itu, faktor lainnya yang menjadi penyebab turunnya angka kemiskinan adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sulsel yang juga turun menjadi 4,97% pada bulan Agustus 2019 jika dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 5,34%. Kemudian penduduk yang berpenghasilan rendah menunjukkan tren kenaikan pendapatan, serta inflasi yang terjaga di tahun 2019.
“Beberapa pendukung kenapa turun, fenomena pertama adalah kondisi perekonomian triwulan III 2019 cukup baik dan tumbuh positif, tingkat pengangguran terbuka turun, penduduk berpenghasilan rendah menunjukkan tren peningkatan pendapatan serta inflasi yang cukup rendah,” jelas Yos.
Meski demikian, lanjut Yos, masih terdapat gape angka kemiskinan di perkotaan dan pedesaan. Tercatat, angka kemiskinan posisi September 2019 di pedesaan sebesar 11,90% atau 597.190 jiwa hampir tiga kali lipat dari perkotaan yang hanya 4,22% saja atau 162.390 jiwa.
“Angka kemiskinan Sulsel turun tapi ada gape penduduk miskin di kota dan desa. Pola ini hampir mirip dengan nasional dan ini yang perlu jadi perhatian pemerintah,” jelas Yos.
Sementara itu, garis kemiskinan di Sulsel senilai Rp341.555 per kapita per bulan, masing-masing senilai Rp256.826 yang dikeluarkan untuk makanan dan senilai Rp84.729 untuk bukan makanan. “Artinya Garis Kemiskinan harus dikalikan dengan jumlah anggota keluarga miskin, dan kalau kita kalikan adalah Rp1,7 juta. Kalau penghasilan di bawah Rp1,7 juta dikategorikan miskin dan di atas Rp1,7 juta tidak miskin,” jelas Yos.
Adapun komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan khusus makanan di antaranya beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, bandeng, kue basah, gula pasir, roti dan lain-lain. Sedangkan komiditi bukan makanan di antaranya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, dan lain-lain.
Seperti yang dikutip dari sindonews.com, Berdasarkan data yang telah dipaparkan, Yos melanjutkan posisi September 2019 gini ratio Sulsel tercatat 0,391. Angka tersebut naik tipis jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu yang mencapai 0,388. “Gini ratio tercatat sebesar 0,391 meningkat dibandingkan bulan Maret 2019 dan September 2018,†pungkas Yos. (Selvi/PKL/net)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















