Mengenal Curling Parenting, Pola Asuh yang Terlalu Melindungi Anak dari Berbagai Masalah

Curling Parenting
Mengenal Curling Parenting, Pola Asuh yang Terlalu Melindungi Anak dari Berbagai Masalah. (Foto:iStock)

BOGORTODAY.COM – Setiap orang tua tentu menginginkan anak tumbuh dengan bahagia, aman, dan terhindar dari berbagai kesulitan. Namun, niat baik tersebut terkadang membuat sebagian orang tua terlalu banyak mengambil alih persoalan yang seharusnya dapat dihadapi anak sendiri. Pola pengasuhan seperti ini dikenal dengan istilah curling parenting.

Belakangan, istilah tersebut semakin sering dibahas dalam dunia parenting karena dinilai memiliki dampak positif sekaligus negatif terhadap perkembangan anak. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan curling parenting?

Apa Itu Curling Parenting?

Istilah curling parenting berasal dari olahraga curling. Dalam permainan tersebut, pemain menyapu permukaan es di depan batu yang meluncur agar jalannya tetap mulus tanpa hambatan.

Konsep yang sama kemudian digunakan untuk menggambarkan gaya pengasuhan di mana orang tua berusaha “membersihkan” setiap rintangan yang mungkin dihadapi anak. Mulai dari menyelesaikan masalah, menghindarkan anak dari kegagalan, hingga mengambil keputusan yang seharusnya bisa dipelajari anak sendiri.

BACA JUGA :  Mengenal Ayat Seribu Dinar: Makna, Kandungan, dan Cara Mengamalkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut psikolog klinis Laura Anderson, pola asuh ini muncul karena keinginan orang tua untuk melindungi anak dari rasa kecewa, kesalahan, maupun pengalaman yang dianggap menyakitkan.

Sekilas, perhatian tersebut terlihat sebagai bentuk kasih sayang. Namun jika dilakukan secara terus-menerus, anak berpotensi kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan kehidupan.

Tanda-Tanda Orang Tua Menerapkan Curling Parenting

Ada beberapa kebiasaan yang umum ditemukan pada orang tua dengan pola asuh ini, di antaranya:

  1. Terlalu Cepat Menolong Anak

Ketika anak mengalami kesulitan, orang tua langsung turun tangan sebelum anak memiliki kesempatan mencoba menyelesaikannya sendiri.

Akibatnya, anak tidak terbiasa berpikir mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

  1. Selalu Berusaha Menghindarkan Anak dari Kegagalan
BACA JUGA :  Sekolah Rakyat Hadir di Jasinga, Solusi Presiden Prabowo Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan

Kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Orang tua berusaha memastikan anak selalu berhasil sehingga mereka jarang merasakan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.

Padahal, kegagalan merupakan bagian penting dalam proses belajar.

  1. Mengendalikan Banyak Keputusan Anak

Mulai dari menentukan kegiatan ekstrakurikuler, memilih hobi, hingga mengambil keputusan penting dalam kehidupan anak, semuanya lebih banyak ditentukan oleh orang tua.

Anak akhirnya memiliki ruang yang terbatas untuk belajar membuat pilihan sendiri.

  1. Takut Anak Menghadapi Risiko

Orang tua cenderung melarang anak mencoba pengalaman baru karena khawatir mereka akan gagal atau merasa kecewa.

Sikap ini memang bertujuan melindungi, tetapi dapat menghambat keberanian anak dalam mengeksplorasi potensi dirinya.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================