SETELAH IKHTIAR TOBAT NASUHA UNTUK MELAWAN VIRUS CORONA

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.

Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (Q.S. Al Baqarah ayat 275)
Tegas dan jelas kan brour, tapi mengapa kita masih ndablek memakai riba, padahal riba itu haram. Kita patuh ada aturan bahwa babi itu haram, tapi pas giliran riba, kita diam, seolah tidak ada masalah.
Hukum juga sungguh memprihatinkan, hukum hanya tajam di bawah dan tumpul di atas. Atau hukum hanya berlaku yang kritis pada pemerintah, sementara yang dekat dengan pemerintah tidak tersentuh. Hal ini sudah diprediksi oleh Rosul SAW 1400 tahun yang lalu.

Politik carut marut, meski kita sudah menerapkan demokrasi dengan baik, tapi masih banyak kekurangan. Gegara Pilpres 2 kita seperti terbelah jadi dua. Banyak yang main kasar, politik uang, kecurangan, ketidakpercayaan pada KPU karena kacaunya DPT (belakangan di tangkapnya salah satu anggota Komisioner KPU oleh KPK gegara korupsi)
Sampai puncaknya adanya tragedi kemanusiaan yang menimbulkan korban meninggal lebih dari 600 petugas Pemilu. Dan terjadinya kerusuhan pasca pengumuman sengketa Pilpres oleh MK.

BACA JUGA :  Komitmen Kualitas Pelayanan, Perumda Tirta Pakuan Ikut Rumuskan Solusi Hulu-Hilir PSEL

Budaya masyarakat Indonesia semakin jauh dari agama dan Sunnah Rosul. Jika di kota ada pernikan di gedung, ada budaya standing party, padahal sesuai Sunnah Rosul makan harus duduk. Sedang di desa jika ada pernikahan ada penyanyi dangdut yang mengumbar syahwat.

Patut kita acungi jempol untuk Habib Mahdi bin Hamzah Assegaf, Habib Alwi bin Hamzah Assegaf, Ustadz Muhammad Daud Muslim, Ustadz Anggi Assyifa yang selalu mengadakan sholawatan, tabligh akbar jika ada acara pernikahan, milad atau tasyakuran.

Penyakit masyarakat yang berupa miras, narkoba, pelacuran, judi, LGBT, korupsi dan hedonisme semakin marak. Miras di jual bebas di pinggir jalan, juga pelacur ada di pinggir jalan selain online. LGBT banyak di taman kota. Korupsi semakin menggila, meski ada KPK. Narkoba ditemukan dalam jumlah yang besar. Masyarakat senang dengan mental judi, yaitu suka ikut undian berhadiah.

Hedonisme adalah pandangan hidup bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup.

BACA JUGA :  Satpam Kebun Sawit Selamatkan Nyawa Pemilik Rumah dari Kobaran Api

Gaya hidup ini berbahaya karena, cinta dunia dan boros, serta tidak punya kepedulian terhadap saudara kita yang belum beruntung. Ciri orang hedon adalah pelit untuk urusan agama/akhirat, tapi royal dan boros untuk urusan dunia. Untuk donasi ke Masjid paling memberi 1 juta, tapi untuk urusan maksiat bisa memberi 1 milyar.

Paham liberalisme, sekulerisme, dan kapitalisme adalah sangat berbahaya, karena negara dan rakyat dijauhkan dengan agama, tapi rakyat justru dikenalkan dengan kebebasan, hedonisme, riba, pornografi, perzinahan, judi, dan segala bentuk kesesatan.

Contohnya, ada pejabat yang mengatakan kalau berpolitik jangan bawa-bawa agama. Musuh Pancasila adalah agama. Ayat konstitusi di atas ayat Kitab Suci. Indonesia bukan negara agama.

Assalamualaikum diganti dengan salam Pancasila. Boleh nilah beda agama dan zina boleh asal suka sama suka (ini sesat)
Inilah semua dosa-dosa kita, yang mengundang musibah berupa virus corona.

Semoga kita sabar dan ikhlas menerima takdir ini dari Allah, sambil terus berdzikir, bersholawat, shalat dan berdoa. Sehingga Allah segera mentakdirkan virus corona ini berakhir, dan kita nyaman melaksanakan ibadah puasa, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================