
Sewaktu kampanye Pilpres 2014 program kerja Jokowi salah satunya adalah Revolusi Mental. Menurut Jokowi Revolusi Mental adalah menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan.
Tapi dalam prakteknya Revolusi Mental jauh dari harapan dan banyak dikritik orang, maka Jokowi mengkanter dengan merubah arti Revolusi Mental menjadi revolusi mental adalah justru mengarahkan masyarakat secara massif menerapkan ajaran Ketuhanan, tidak seperti kondisi saat ini, dimana ajaran agama cenderung hanya dipelajari dan dipahami, namun tidak diterapkan. Dan hasilnya belum berhasil dengan maksimal, terbukti korupsi masih banyak dan masyarakat masih banyak yang kehidupannya jauh dari agama (sekuler dan liberal).
Maka Jokowi ambil senjata pamungkas, yaitu mengambil Wapres dari seorang Ulama yaitu K.H. Ma’ruf Amin. Inipun juga belum berhasil, terbukti masih banyak umat Islam dan Ulama yang tidak pro Jokowi.
Menurut penulis pengertian dari Revolusi Akhlak dan Revolusi Mental podo wae (sama saja) yaitu intinya ke hal agama.
Jokowi itu seorang yang Pancasialis, terbukti beliau sering berkata saya Pancasila. Sementara HRS juga seorang yang Pancasialis, terbukti HRS memiliki disertasi dengan judul “Pengaruh Pancasila terhadap Penerapan Syariat Islam di Indonesiaâ€.
Jadi banyak persamaan antara Jokowi dengan HRS. Maka sekarang saatnya setelah HRS sampai di Indonesia, kedua pemimin ini dan pengikutnya untuk mengamalkan sila-sila Pancasila. Alangkah indahnya jika HRS mengundang Jokowi di acara pernikahan putrinya, setelah itu gantian Jokowi mengundang HRS untuk hadir di acara Maulid misalnya di Masjid Istiqlal atau di Monas. Baru setelah itu Jokowi dan HRS untuk bermusyawarah demi persatuan dan keberkahan NKRI. Jayalah Indonesiaku.
(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
======================================
====================================