Agus beralasan, mayoritas penduduk Sukamakmur hanya berprofesi sebagai buruh tani dengan penghasilan rendah. Meski pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya dalam mengatur sistem pembelajaran melalui fasilitas sekolah agar murid tidak ketinggalan materi.
“Kami telah berupaya dengan cara murid datang ke sekolah, namun lagi-lagi jarak sekolah dengan rumah menjadi kendala. Selama ini mereka meminjam handphone tetangganya,” terang Agus.
Sementara itu, salah satu wali murid, Deden (bukan nama sebenarnya) mengakui selama PJJ berlangsung dirinya merasa terbebani dengan sistem pembelajaran yang mengharuskan anaknya memiliki alat komunikasi.
“Jangankan beli HP, untuk kebutuhan sehari-hari saja susah, lebih baik anak
putus sekolah dan belajar di pondok pesantren,” akunya.
(B. Supriyadi)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
======================================
====================================