
Endang menambahkan, sebetulnya ini bukan hanya meningkatkan keterampilan dan ekonomi saja, tetapi dirinya melihat bahwa angka stunting di Kota Bogor cukup tinggi. Hal ini dikarenakan masyarakatnya kekurangan asupan gizi dari ikan, sehingga dirinya berjuang dan mengajak masyarakat untuk gemar makan ikan, dimana gemar makan ikan itu progam dari Menteri Kelautan, kemudian mereka diajarkan metode teknologinya yaitu cara mengolah dan memasarkannya.
“Jadi yang selama ini kita berikan bantuan langsung secara cuma-cuma itu, kita ingin masyarakat ini harus memanfaatkan teknologi, seperti cara pengolahannya, menyimpannya, pemasarannya hingga hasilnya nanti berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kota Bogor Anas Rasmana mengatakan, saat ini Kota Bogor memproduksi 5537 ton yang hanya bisa dibuat dalam bentuk pindang dan ternyata masyarakat tidak mau mengkonsumsinya karena bau amis. Untuk itu, perlu adanya inovasi yaitu dengan cara mengolahnya.
“Menurut saya pelatihan olahan dan pemasaran ikan ini sangat tepat sekali agar ada spesifikasi produknya, dan kita ingin meningkatkan produksi ikan olahan,” katanya.
Sedangkan untuk pemasarannya, kata Anas bisa berkerja sama dengan dekranasda, bakul (badan kuliner) dan juga PHRI. “Untuk pelatihan packingnya nanti ada dari Disperindag. Kemudian nanti olahan ikan ini bisa dijual di toko-toko minimarket, hotel dan restoran,” pungkasnya. (Heri)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















