Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan & Guru Sekolah Pesat)

Menurut istilah dalam sejarah Islam, Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem, Palestina.

Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi menuju langit ketujuh, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha .

Terjemahan dari Q.S. Al-Isra (ayat 1),”Maha Suci Allah yang telah memjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan terindah yang dilalui Nabi Muhammad SAW. Tidak ada manusia di muka bumi yang diberi nikmat bisa bertemu langsung dengan Zat Maha Kuasa, Allah ‘Azza wa Jalla. Menurut Buya Yahya, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dilihat dengan kacamata akal dan pikiran manusia, maka cara melihatnya pun harus menggunakan hati dan iman.

Dimulai dari kebingungan Rasulullah SAW untuk bersalam kepada Allah Ta’ala, hingga Allah mewahyukan salam yang tepat dari hamba kepada-Nya yaitu: “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah Ta’ala).

Saat itu Allah menjawab: “Assalamu ‘alaika Ayyuhannabiyyu wa rahmatullahi wa barokatuh” (Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW). Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah salat yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari perjalanan Isra’ Mi’raj.

Pesan yang bisa dibaca dari bacaan Tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan shalat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah dengan berbekal diri dengan 3 bentuk kebaikan, yaitu: hubungan baik dengan Allah SWT, Rasulullah SAW dan dengan sesama manusia,” kata Buya Yahya.

Shalat merupakan kewajiban bagi tiap muslim yang sudah akil dan balig. Shalat bukan hanya rutinitas ibadah yang dikerjakan lima waktu dalam sehari. Sebab, shalat menjadi bukti keimanan dan ketaatan seorang muslim dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Maka Isra’ Mi’raj bisa menjadi spirit untuk keberkahan NKRI, asal shalat kita semua sudah baik sesuai sabda Rosul SAW,“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” Dengan keberkahan ini penduduk suatu negeri akan hidup dengan aman, tenteram, makmur, dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan.

Berkah, menurut Imam al-Ghazali, artinya bertambahnya nilai kebaikan. Tentang keberkahan ini Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raf: 96).

Nah jika kondisi NKRI sekarang masih banyak korupsi, kedzoliman, kemungkaran, riba dan zina dianggap biasa, maraknya narkoba, bahkan miras dilegalkan. Penulis jadi takut akan ancaman dari Allah SWT. “Dan Allah telah membuat perumpaan sebuah negeri yang dahulunya aman, tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi karena penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka Allah merasakan bencana kelaparan dan ketakutan sebab ulah perilaku mereka sendiri.” (QS an-Nahl: 112).

Maka dari sekarang penulis mengajak diri sendiri dan semua muslim di Indonesia untuk terus memperbaiki shalat kita.

Alangkah indahnya jika semua pemimpin dari Kepala Keluarga (Bapak), RT, RW, Lurah/Kades, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur dan Presiden terus memperbaiki shalatnya dan mau istiqomah shalat berjamaah di Masjid. Sehingga NKRI menjadi berkah, Aamiin. Jayalah Indonesiaku. (*)