TERUS BAGAIMANA SOLUSINYA?

Oleh : Heru B Setyawan (Guru Pengabdian SMA Pesat School Of Talent)

Harkitnas (Hari Kebangkitan Nasional) diperingati setiap 20 Mei, yang bertepatan dengan berdirinya organisasi Budi Utomo (BO) pada 20 Mei 1908 pimpinan Dr Sutomo. Dalam buku Pahlawan Indonesia (2007) karya Bima, berikut tokoh yang mempelopori Kebangkitan Nasional, yaitu:

Baca Juga : EINSTEIN SAJA ANTI ISRAEL, KAMU YANG NKRI KOK PRO ISRAEL

1. Sutomo (Dr. Sutomo) beliau keliling Indonesia untuk menanamkan rasa memiliki tanah air, beliau juga aktif di organisasi.

2. Dr Cipto Mangunkusumo tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dirinya salah satu tokoh di Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri. Dirinya suka mengkritik terhadap Belanda.

3. Ki Hajar Dewantara tokoh pendidikan dan pendiri Taman Siswa. Taman Siswa menjadi lembaga pendidikan pertama yang memberikan kesempatan bagi rakyat pribumi untuk memiliki pendidikan yang sama dengan bangsawan. Ki Hajar Dewantoro juga bergabung dengan Indische Partij.

4. Douwes Dekker salah satu peletak dasar nasionalisme Indonesia. Douwes Dekker juga seorang penulis yang kritis terhadap Belanda. Selain penulis, dirinya juga aktivis politik.

Baca Juga : SAATNYA PENJAJAH ISRAEL HENGKANG DARI PALESTINA

Inilah versi ke 1 atau yang umum kita ketahui dalam sejarah selama ini. Sedang versi ke 2 Hardiknas adalah menurut Asvi Marwan sejarawan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Asvi Marwan Adam menilai penetapan tanggal lahir BO sebagai Harkitnas tidak layak.

Hal ini karena BO tidak bisa disebut sebagai pelopor kebangkitan nasional. Menurutnya, BO bersifat kedaerahan. “Hanya meliputi Jawa dan Madura saja” katanya.

Dalam buku yang ditulisnya, “Seabad Kontroversi Sejarah“ Asvi sendiri menulis bahwa BO yang oleh banyak orang dipercaya sebagai simbol kebangkitan nasional, pada dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, dan jarang memainkan peran politik yang aktif.

Padahal politik adalah pilar utama sebuah kebangkitan. Sarekat Islam (SI) merupakan kawah candradimuka berbagai pemikir Indonesia kelas dunia. Sebutlah H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Soekarno sampai dengan Tan Malaka, Muso dan Semaun. Tokoh-tokoh ini memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.

Maka, menafikan peran SI dan menggantinya dengan organisasi yang bersifat kedaerahan merupakan hal yang sangat naïf. Dengan lahirnya SDI yang kemudian berganti nama dengan SI, persatuan bangsa ini mulai dirajut. Tanpa membatasi kesukuan, pangkat, golongan maupun strata sosial.

Dengan membandingkan BO dengan SI, maka sewajarnya gerakan seperti SI yang dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional. Tapi mengapa justru para pemegang kekuasaan lebih suka menempatkan BO sebagai pelopor?

Terlihat kecenderungan menghilangkan peran Islam dalam sejarah Indonesia. Berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 16 Oktober 1905 yang kemudian menjelma menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912 merupakan pelopor kebangkitan nasional.

Pelurusan sejarah mengenai Harkitnas nampaknya perlu dilakukan. Bagaimana mungkin organisasi sebesar SI bisa hilang dalam sejarah dan pendiriannya juga tidak dijadikan tonggak Harkitnas.

Baca Juga : KESUCIAN IDUL FITRI UNTUK KEBERKAHAN NKRI

Fakta-fakta tentang SI seyogyanya bisa dijadikan pertimbangan pemerintah untuk melakukan pelurusan fakta sejarah. Seharusnya pemerintah mengkaji ulang dan meluruskan fakta sejarah ini. Tidak perlu ditutupi dan diterus-teruskan, karena beberapa pakar sejarah juga telah mengungkapkan kesalahan tersebut.

Terus gimana solusinya bro? InsyaAllah mudah bro jika kita mau mengambil hikmah dari perayaan Harkitnas yaitu: Hikmah Harkitnas adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang menjadi landasan berdirinya NKRI.

Ok saatnya para pakar sejarah, pemimpin dan tokoh nasional untuk duduk bermusyawarah sambil minum kopi dengan santuy, gak perlu emosi, gak perlu merasa paling benar sendiri.

Jika misal Harkitnas tetap 20 mei, adalah elok dan bijaksana para tokoh Sarekat Islam (SI) dimasukkan juga sebagai tokoh-tokoh Harkitnas. Jayalah Indonesiaku. (*)