BOGOR TODAY – Setiap tanggal 2 Mei, seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ditanggal yang sama 2 Mei merupakan hari lahir tokoh pendidikan Indonesia sekaligus pahlawan Nasional yakni, Ki Hadjar Dewantara.

Baca juga : Pendidikan Dibungkam Corona, Belasan Siswa Terancam Putus Sekolah

Pemilik nama asli, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat lahir dari keluarga ningrat di Pakualam 2 Mei 1889 dan wafat pada usia 69 tahun di Yogyakarta, 26 April 1959.

Ia merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Baca juga : 2021 Disdik Garap Perda Satuan Pendidikan PAUD

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

Baca juga : Anggaran Pendidikan Berkurang, Kopel Pertanyakan Keseriusan Pancakarsa

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan Nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Baca juga : Wapres Terpilih RI Ajak Pelaku Pasar Modal Berkontribusi di Dunia Pendidikan

Dilansir Wikipedia.org, Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit.

Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda bersama dua rekannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Baca juga : Sekda Burhan : Pendidikan Dan Kesehatan Masih Prioritas

Ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Baca juga : Guru dan Siswa Aceh Mendapatkan Pendidikan Bahasa Inggris Gratis

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij. (wkpd/B. Supriyadi).