Padahal, kata Meiki, DAS harusnya menjadi daerah terbuka hijau. DAS ini juga bisa menjadi daerah resapan air yang akan membantu jika sungai tak lagi bisa menahan debit air hujan.

“Jadi banyak tumbuh kawasan permukiman di badan sungai yang seharusnya secara ekologis dia buffer, tidak dimukimi, tidak ada tempat tinggal. Itu kan masuk kategori kerusakan lingkungan selain karena kontribusi sedikit banyak diakibatkan karena kerusakan juga di bagian hulu,” jelas Meiki.

BACA JUGA :  Rekomendasi Primer untuk Kulit Berminyak agar Makeup Tahan Lama dan Tidak Mudah Luntur

Meiki pun mendorong perbaikan tata ruang kota di Kabupaten dan Kota Bogor, sekaligus mengkaji kembali izin pembangunan atau alih fungsi lahan terbuka hijau di sekitar Gunung Salak.

“Perbaikan tata ruang kota itu perlu sebagai proses mitigasi. Ke depan kawasan hulu ini juga harus ada perbaikan dari aspek kebijakan, pembatasan izin alih fungsi lahan, lebih diutamakan lagi jadi satu zona hutan lindung yang punya kemampuan menyerap air hujan,” tuturnya.

Dikabarkan sebelumnya, banjir bandang melanda Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Senin (6/9/2021) petang. BMKG menyebut penyebab banjir akibat hujan intensitas tinggi hingga Sungai Cidurian meluap. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

BACA JUGA :  Safari Jurnalis PWI Kabupaten Bogor Sambangi Sukajaya, Perkuat Sinergi Pers dan Masyarakat

Peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Januari 2020. Banjir disertai tanah longsor yang disebut akibat luapan Sungai Cidurian itu memakan 8 korban jiwa. Bencana banjir juga beberapa kali terjadi di Bogor saat intensitas hujan tinggi.(CNN/B. Supriyadi).

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================