
Perjuangannya untuk mengedapankan pendidikan bagi anak-anak tak semulus yang diharapkan. Dirinya mengaku sempat jatuh bangun mendirikan taman baca tersebut. Hingga akhirnya, Agai memanfaatkan sebuah bangunan semi permanen berukuran 2×3 meter persegi yang bersebelahan dengan majelis pengajian.
“Selepas SMA lalu masuk Universitas atau perguruan tinggi, itu namanya Penelitian. penelitian atas pendidikan yang didapat dari sekolah dasar lalu SMP SMA sampai kuliah, setelah lulus dengan sebuah gelar sarjana baru kita menginjak pada apa yang disebut pengabdian,” jelasnya.
Saat ini, kata Agai taman baca itu telah menampung 30 anak. Mengingat tempatnya terbatas, dirinya membagi waktu belajar dari siang hingga malam. Dalam satu hari, kata dia terdapat tiga kali pertemuan juga dibagi perkelompok.
Waktu belajarnya dimulai selepas anak-anak menunaikan salat ashar, lalu disambung kelompok kedua habis magrib hingga sesudah Isya, kemudian kelompok ketiga selepas Isya hingga pukul 9 malam. Sementara untuk hari Sabtu dan Minggu dijadwalkan untuk libur.
“Jadwal pelajarannya sih menyesuaikan anak-anak, seperti Senin sampai Rabu belajar membaca, menulis, mempelajari tugas sekolah anak, dan mengaji. Untuk hari Kamis menulis, menghitung, mengerjakan tugas, dan mengaji. Untuk hari Jumat menulis, menghitung, diskusi kelompok, dan mengaji tapi lebih kepada peraktek.” Tutupnya. (Didin/CR)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















