
BOGOR-TODAY.COM, BOGOR – Kabar adanya dugaan tempat prostitusi online yang berlokasi di Desa Sipak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor membuat Satpol PP Kecamatan Jasinga terkejut.
Kasi Trantib Satpol PP Kecamatan Jasinga, Suhendi mengaku belum mengetahui adanya kos-kosan yang diduga dijadikan tempat esek-esek oleh para pencari kenikmatan sesaat.
“Ya pertama saya merasa terkejut, karna itukan tempat rame tempat umum dan ada di lintasan jalan provinsi, terlebih lokasinya ada di Desa yang identik dengan Desa Santri,” Tuturnya kepda Bogor Today, Sabtu (6/11/2021).
Dia pun melanjutkan bahwa selepas mendapat informasi secara jelas, dirinya akan langsung berkoordinasi dengan atasan sebelum mengkroscek langsung ke lokasi.
“Iya kang kita akan laporan dulu ke atasan untuk tindak lanjutnya, karna kita gak bisa bertindak sendiri untuk kroscek langsung kelapangan, nanti kalo udah ada instruksi dari Camat baru kita Kroscek kelapangan, untuk kroscek juga kita akan minta di dampingi dari Polsek serta Koramil,” kata dia.
Sementara itu, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya pun menuturkan bahwa dirinya sempat mendapat laporan dari ibu-ibu yang tinggal di lokasi yang di duga dijadikan tempat transaksi mantap-mantap tersebut.
“Iya sih, dulu kita pernah mendapatkan laporan dari ibu-ibu warga sekitar yang curiga ada aktivitas yang aneh, tapi kita gak tau cara menindaklanjutinya,” singkatnya.
Diberitakan sebelumnya, diduga jadi tempat prostitusi online yang berkedokan kos-kosan, salah satu rumah di Desa Sipak telah menggemparkan warga Sipak.
Penelusuran tim Bogor Today beberapa waktu lalu, telah menemukan rumah petakan yang diduga dijadikan praktek prostitusi terselubung.
Salah seorang penjajak seks yang berhasil diwawancarai tim Bogor Today menuturkan, bahwa aktifitas yang dilakukannya itu terpaksa, karena kebutuhan hidup yang mendesak, demi memenuhi kebutuhannya dia pun rela menjual tubuh aduhainya ke lelaki hidung belang.
“Ya atuh gimana bang, dimasa sulit kaya gini nyari kerjaan yang sesuai untuk menutupi kebutuhan sangat sulit, sedang tiap hari kita harus makan harus memenuhi segala kebutuhan lainnya,” tutur wanita berusia 29 tahun itu.
Tim pun mencoba melakukan investigasi kepada wanita lainnya. Single paren dengan dua anak, itupun rela menjalani propesi wanita panggilan kelas kampung demi mencukupi kebutuhan anaknya yang masih kecil pasca dia bercerai dengan suami.
“Belum lama sih a kita ngejalani BO (booking) kaya gini, ya semenjak pisah aja sama suami lima bulan lalu, sedangkan dirumah ada dua anak yang satu umur 7 tahun kelas satu SD, yang paling kecil baru berumur 7 bulan yang harus dibiyayai,” ungkapnya sembari memperlihatkan foto anak bayinya kepada tim Bogor Today.
Rupanya bukan hanya kedua wanita itu saja yang menjadi penjajak mantap-mantap. Ada banyak lagi wanita muda usia duapuluhan tahun lebih menjajakan diri. Dengan memanfaatkan aplikasi wechat mereka pun berteransaksi.
“Mereka berteransaski lewat wechat, setelah harga cocok langsung cek in ke kos-kosan itu. Tarifnya pun berpariatif mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 600 ribu persekali kencan,” kata sumber Bogor Today.
Yang lebih miris lagi, lokasi tempat yang diduga dijadikan transaksi esek-esek itu, lokasinya tidak jauh dari rumah kepala desa yang saat ini menjabat. Namun, keberadaan mereka seolah-olah tidak tercium baik oleh tokoh masyarakat, agama maupun kepala desa yang bertanggung jawab atas kondisi sosial di desa tersebut. (Tim Bogor Today)
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















