Menguak Sejarah Singkat Pasir Sinala Gunung Kapur Ciampea

Dia pun menambahkan bawaha, selain sejarah masa kejayaan Tarumanagara yang ditemukan, kawasan kart Ciampea memilik kisah masa-masa transisi kemerdekaan Repulik Indonesia.

Dimana Kawasan Karst Ciampea dan perbukitan lainya di lintasan Jalan Raya Bogor Banten itu menjadi tempat berlindungnya para pejuang kemerdekaan (tentara dan relawan) dalam melawan tentara NICA yang masuk dari perairan Banten Laut Jawa menuju arah Bogor.

Selain tempat berlindung para pejuang kemerdekaan kawasan karst Ciampea juga menjadi tempat penyimpanan logistik para pejuang dan syuhada dalam memerangi penjajah kolonial Belanda di wilayah bogor.

“Hal ini dibuktikan selain cerita dari warga masyarakat yang bermukim di kawasan karst Ciampea, fakta disekitar kawasan karst Ciampea ada taman makam pahlawan dan para syuhada, belumlagi diperkuat dengan sejarah adanya pertempuran para pejuang melawan NICA yang dikenal dengan kisah Batalyon “O” Nol yang menghadang tank pasukan tentara NICA ketika masuk dari perairan Banten menuju Kota Bogor (Istana Bogor) dengan melitasi jalan raya Bogor Banten tepatnya pertempuran di daerah Leuweung Kolot, Ciampea, Cibungbulang, yang dipimpin oleh seorang Kiyai dengan dukungan para syuhada (Relawan),” ungkapnya.

BACA JUGA :  Prabowo Bertemu Menlu Turki di Hambalang, Bahas Timur Tengah hingga Pemulangan Relawan Indonesia

“Tambah lagi, pada zaman revolusi, ada pejuang H. Sholeh Iskandar, yang tak lain adalah mayor Batalyon 0, Brigade Tirtayasa, Divisi Siliwangi,” Sambungnya.

Selain itu, Wiwid, pun menjelaskan bahwa Batalyon 0 itu memiliki peran kunci dalam pemerintahan RI Bogor, di antaranya ketika pemerintah RI Bogor mengungsi ke Jasinga lalu ke Malasari karena Kota Bogor dikuasai pemerintahan bentukan Belanda, serta melindungi dan membangun organisasi pemerintahan.

“Saat Batalyon dipindahtugaskan ke Cipanas, Lebak, pemerintah RI Bogor menggelar pesta perpisahan sekaligus memperingati Hari Angkatan Perang Keempat RI dan dimeriahkan pameran pembangunan selama lima hari pada tanggal 5 sampai 10 Oktober 1949,” ulasnya.

Bahkan hal ini diakui pasukan Belanda Regiment Jeger 3e Batalyon yang bertugas di Bogor Barat-Banten. “Sholeh Iskandar adalah salah satu pemimpin kelas menengah Indonesia yang berhasil mengorganisasi dukungan rakyat. Ia didukung rakyatnya dengan sangat kuat,” paparnya.

BACA JUGA :  Penyakit Jantung Kini Tak Lagi Identik dengan Usia Tua, Kasus pada Usia Muda Semakin Meningkat

Perlu di catat juga, bahwa di daerah Leuweng Kolot, Ciampea, KabupatenBogor, ada sebuah tempat bernama Kampung Tank adalah saksi ketangguhan Batalyon 0, karna disana tak lain merupakan bekas tempat peledakan tank baja Sekutu terbesar jenis Sherman di daerah Leuweng Kolot, Ciampea, Kabupaten Bogor.

“Batalyon 0 disegani bukan hanya karena jumlah senjatanya, melainkan juga karena semangatnya, daya juangbya, disiplin, dan pengorganisasiannya cukup rapi. Dari cerita atau kisah rakyat dan fakta-fakta yang ditemukan dilapangan menjadi sumber kuat bahwa Kawasan Karst Ciampea adalah bagian dari kawasan peninggalan sejarah dari masa-kemasa dan kawasan penyangga kelestarian alam yang harus dipertahakan dan dijaga keberadaanya sebagai identitas Bangsa,” tutupnya. (Didin/CR)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================