
Periode subakut diperkirakan terjadi hingga dua minggu setelah cedera. Karakteristik dari fase ini adalah respons fagositosis untuk membersihkan debris seluler dan proliferasi aktif dari astrosit yang membentuk scar yang mencegah regenerasi aksonal. Meskipun begitu, proliferasi astrosit berperan penting dalam homeostasis ionik dan pembentukan kembali sawar darah otak, sehingga membatasi imunitas sel dan edema.
Minggu kedua hingga bulan keenam setelah cedera ditandai dengan maturasi scar astrositik dan regenerasi aksonal yang berkelanjutan.
Fase Kronik
Fase intermediate diikuti oleh fase kronik yang ditandai dengan maturasi dan stabilisasi scar astrositik, pembentukan syrinx dan kavitas, dan degenerasi wallerian (degenerasi akson di bagian distal cedera). Sekuele jangka panjang meliputi nyeri kronik dan spastisitas. Target terapi pada periode ini adalah remyelinisasi dan plastisitas sistem saraf.
Etiologi spinal cord injury atau cedera spinal umumnya disebabkan oleh kasus trauma, akan tetapi sebagian kecil disebabkan oleh kasus-kasus non trauma. Kasus trauma cedera spinal umumnya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kasus kekerasan, olahraga dan kejadian jatuh. Kasus non trauma dapat disebabkan oleh kelainan kongenital atau hasil dari iskemia, penyakit autoimun, penyakit infeksi serta komplikasi dari prosedur medis.
Kasus Trauma
Kasus trauma masih menjadi penyebab terbesar spinal cord injury. Berdasarkan National Spinal Cord Injury Statistical Center (NSCISC) pada tahun 2010 didapatkan, sebab cedera spinal di Amerika Serikat adalah sebagai berikut:
- Kecelakaan lalu lintas (38 persen)
- Kasus jatuh (30.5 persen)
- Kasus kekerasan: terutama luka tembak (13.5 persen)
- Olahraga atau aktivitas rekreasi (9 persen).
- Kasus Nontrauma
Kasus nontraumatik memberikan kontribusi untuk cedera spinal. NSCISC menyatakan 10 persen dari seluruh kasus cedera spinal disebabkan oleh kasus medis, kasus operasi, dan lainnya.
Beberapa sebab kasus cedera spinal non trauma adalah sebagai berikut :
Kelainan kongenital (spina bifida, myelomeningocele, Arnold-Chiari malformation, malformasi skeletal, syringomyelia)
Penyakit degeneratif kolum vertebra (spondilosis vertebra, stenosis spinalis, prolaps diskus, spondilolistesis)
- Kompresi tumor
- Iskemia vaskular
- Penyakit infeksi (polio, tuberkulosis, sifilis)
- Multiple sclerosis
- Transverse myelitis
- Fraktur vertebra akibat osteoporosis sekunder
- Iatrogenik (seperti injeksi spinal, kateter epidural, pungsi lumbal)
Faktor Risiko
Faktor risiko berbeda pada tiap populasi. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih sering mengalami cedera spinal dengan rasio perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 2:1.
Berdasarkan usia, kejadian cedera spinal meningkat di dua populasi. Pertama, pasien laki – laki dewasa muda, cenderung mengalami cedera spinal terkait trauma kecelakaan bermotor ataupun cedera yang berhubungan dengan olahraga. Kedua adalah pasien geriatri. Pasien geriatri mengalami cedera spinal diakibatkan oleh karena kasus jatuh, infeksi, tumor serta kelainan tulang.
Epidemiologi spinal cord injury yang juga bisa disebut cedera spinal bervariasi pada berbagai negara, berkisar di antara 13,0 – 220 per 1.000.000 penduduk. Penyebab tersering adalah kecelakaan kendaraan bermotor diikuti oleh kasus jatuh.
Global
Insidensi cedera spinal pada negara maju berkisar antara 13,1 – 163,4 per 1.000.000 penduduk, sedangkan pada negara berkembang berkisar antara 13,0 – 220,0 per 1.000.000 penduduk. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















