“Omzet per bulan kalau dikira-kira paling Rp 15 sampai Rp 20 juta per bulan. Tapi kalau saya lihat pembukuan, pengeluaran belanja kaktus itu daripada penjualan, lebih tinggi pengeluaran, lebih banyak pembelian. Karena saya masih sangat hobi-hobinya dengan kaktus, jadi saya tidak terlalu memikirkan penjualan,” ujarnya.

Petani kaktus asal Ciamis ini menjual kaktus dari mulai harga Rp 5 ribu sampai jutaan rupiah.

“Paling murah saya punya yang gratis, khusus buat saudara, atau teman yang bukan penghobi kaktus tapi ingin mencoba merawat kaktus, saya biasanya kasih gratis. Yang 5 ribu juga, paling mahal 7 juta, ada yang 5 juta ada yang 1 juta. Jadi belum punya yang 40 juta, atau 30 juta,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kemensos Akui Sekolah Rakyat Masih Kekurangan Guru dan Asrama

Jenis kaktus yang ditanam Asep mulai dari Astrophytum, Gymnocalycium, Mammilaria, Echeveria, Haworthia, dan Mondenium.

“Meskipun banyak juga sukulen, tapi kebanyakan Gymnocalycium. Sekarang lagi suka sama agape.

“Saya otodidak, tahun 2020 itu kita tahu meledaknya Corona, saya diam di rumah saya bosan, saya hobilah sama kaktus. Naluri untuk belajar merawat itu datang sendiri, sehingga saya terus belajar sendiri, menggali di sosial media, yang menginformasikan artikel-artikel. Sekarang zaman digital jadi lebih mudah. Kemudian kita aplikasikan, kalau gagal coba lagi, terus begitu,” katanya.

BACA JUGA :  Ubah Kebiasaan Makan Siang, Risiko Tekanan Darah Tinggi Bisa Berkurang

Menurut Asep pada Januari 2020 harga kaktus masih biasa-biasa saja. Baru pada bulan Agustus 2020, banyak penghobi baru, yang menawar dengan harga fantastis.

“Dari sana saya mulai jualan, sampai sekarang rutin jualan. Alamat masih di Jalan Tegal Panjang, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis. Belum buka secara umum, karena belum siap, barangnya belum banyak. Jadi tidak dibuka secara umum,” ucapnya. (net)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================