
Lalu, di tahun yang sama, Rumah Sakit New York menuai kontroversi setelah salah menyatakan seorang wanita mati otak akibat overdosis obat. Wanita tersebut terbangun tak lama setelah dibawa ke ruang operasi, untuk dilakukan pengambilan organ.
Lantas, pertanyaannya, bagaimana bisa ada kesalahan dalam menyatakan seseorang telah meninggal? Sebenarnya, dalam medis dikenal dua jenis kematian, yaitu kematian klinis dan biologis. Kematian klinis diartikan sebagai tidak adanya denyut nadi, detak jantung, dan pernapasan, sedangkan kematian biologis diartikan sebagai tidak adanya aktivitas otak.
Meski kelihatannya sederhana, hal ini juga bisa jadi rumit. Sebab, ada beberapa kondisi medis yang membuat seseorang “terlihat” telah meninggal. Seperti hipotermia misalnya, yang terjadi ketika tubuh mengalami penurunan suhu secara tiba-tiba, akibat paparan dingin berkepanjangan. Kondisi ini menyebabkan detak jantung dan pernapasan melambat, bahkan hampir tidak terdeteksi.
Selain hipotermia, ada juga sindrom terkunci atau locked-in syndrome (LIS). Seperti namanya, sindrom ini membuat seseorang sadar akan lingkungannya, tetapi mengalami kelumpuhan total pada otot-otot tubuh.
Jadi, sindrom ini membuat pengidapnya seolah terkunci atau terkubur hidup-hidup, karena bisa berpikir, merasakan, dan mendengar, tetapi sama sekali tidak bisa berkomunikasi atau menggerakkan tubuh.
Bagaimana Tanda-Tanda Kematian secara Medis?
Secara medis, seseorang dinyatakan meninggal, jika:
- Tidak terdeteksi adanya aktivitas pada batang otak. Ciri-cirinya, pupil mata melebar dan tidak bereaksi terhadap cahaya, mata tidak berkedip ketika kornea mata dirangsang, tidak ada refleks muntah ketika tenggorokan dirangsang.
- Tidak berfungsinya organ vital, seperti jantung.
- Terhentinya pernapasan.
- Tidak adanya aktivitas listrik jantung atau jantung tidak berdenyut.
- Tidak adanya respon terhadap rangsangan nyeri, misalnya ketika dicubit.
- Tubuh tampak kaku. Biasanya mulai terlihat sejak 3 jam setelah kematian.
- Suhu tubuh menurun, setidaknya 8 jam setelah kematian.
Kemudian, serangkaian perubahan akan terjadi secara alami. Misalnya, perubahan otot menjadi kaki, munculnya lebam-lebam ungu kebiruan pada berbagai bagian tubuh, munculnya bintik-bintik pada kulit akibat pembuluh darah yang pecah, keluarnya cairan pembusukan dari lubang-lubang tubuh, hingga pembusukan atau dekomposisi.
Selain itu, tanda-tanda kematian dapat juga memiliki ciri khas tersendiri, tergantung penyebab kematiannya. Untuk mengetahui pasti penyebab dan perkiraan waktu kematian, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis forensik. (*).
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















