
Sementara itu, salah satu pedagang sembako Pasar Bogor, Suranti menyebut hari ini dirinya tidak menjual minyak goreng kemasan lantaran tidak mendapat pasokan dari distributornya. Dalam sepekan, ia hanya boleh membeli minyak sebanyak tiga dus. Namun, ketika dijual, langsung habis dalam dua hari karena pembeli yang sudah menunggu.
“Kalau minyak curah sih nggak sampai nggak ada ya. Kalau minyak kemasan, kosong, memang nggak ada. Seminggu sekali dapat nih (dari distributor), dapat tiga dus, paling dua hari habis. Setelah itu ya kosong lagi, ambil minyak lagi minggu depan,” kata Suranti.
“Sekarang saya jual masih Rp 14 ribu (per kilogram) untuk kemasan, untuk minyak curah Rp 16 ribu,” imbuhnya.
Kelangkaan minyak goreng kemasan masih terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor. Para pedagang sembako di pasar tradisional di Kota Bogor mengaku tidak bisa menjual minyak goreng kemasan dalam jumlah banyak karena dibatasi ketika membeli di pihak distributor atau agen besar.
“Kalau minyak curah sih nggak sampai nggak ada ya, kalau minyak kemasan kosong, memang nggak ada. Seminggu sekali dapatnya (dari distributor), itu cuma 3 dus. (Dijual) paling 2 hari habis, setelah itu ya kosong lagi. Mau beli harus tunggu minggu depannya lagi, baru bisa beli,” kata pedagang sembako ditemui di Pasar Bogor Suranti, Rabu (16/3/2022).
Suranti mengaku selalu ada warga yang datang untuk membeli minyak kemasan. Namun, mereka kembali pulang karena minyak kemasan tidak tersedia.
“Setiap hari ada yang tanyain minyak yang kemasan, cuma kan barangnya tidak ada, mau gimana. Kadang mereka pulang lagi, mau cari-cari di tempat lain,” kata Suranti.
Pedagang lain, Wati menyebut, tidak sedikit warga yang sengaja datang untuk membeli minyak kemasan dalam jumlah banyak. Namun, Wati menyiasatinya dengan pembelian dalam bentuk paket. Jadi warga tidak bisa memborong minyak goreng di tokonya.
“Sebenarnya sih nggak membatasi ya, jadi kalau saya itu jual minyak goreng itu dipaket sama bihun atau soun, harganya Rp 20 ribu. Jadi nggak bisa beli minyaknya saja, jadi ini biar orang nggak borong banyak, beli banyak buat stok,” kata Wati ditemui di Pasar Bogor.
Wati, yang juga dibatasi ketika membeli minyak goreng kemasan di distributor, mengaku tetap menjual minyak goreng curah. Namun, harga minyak curah yang dijualnya memang melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang sempat ditetapkan pemerintah.
“Kalau minyak curah itu saya jual hari ini 17 ribu. Kemarin minyak curah ada subsidi dijual 14 ribu, tapi mulai hari ini tanggal 16 saya jual 17 ribu, modalnya saja sudah 15,500,” terang Wati. (B. Supriyadi)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















