Ia berharap, Perumda Tirta Pakuan bisa melakukan berbagai diversifikasi usaha dengan memanfaatkan aset yang ada.

Apalagi, sambung Dedie, aset Perumda Tirta Pakuan ada di mana-mana dengan lokasi yang strategis dan punya nilai ekonomis tinggi, namun pemanfaatannya belum maksimal.

“Ini yang jadi pemikiran dari direksi yang sekarang, optimalisasi aset yang ada,” ucapnya.

Diusianya ke-45

Pada usia yang menginjak 45 tahun, wakil wali kota juga mengapresiasi dan berterimakasih atas kontribusi dari direksi, manajemen hingga staf karyawan juga dewan pengawas Perumda Tirta Pakuan karena telah memberikan kontribusi terbaik hingga saat ini dan menempatkan Perumda Tirta Pakuan ada di peringkat 6 terbaik se-Indonesia.

“Apresiasi dari kami. Kalau bisa terus ditingkatkan, ya paling tidak dipertahankan. Kalau bisa, tentu jadi perusahaan air minum peringkat pertama di Indonesia,” tegas Dedie.

BACA JUGA :  Kesemutan Jangan Dianggap Sepele, Ini 7 Cara Alami untuk Meredakannya

Di tempat yang sama, Direktur Utama (Dirut) Perumda Tirta Pakuan Rino Indira Gusniawan menuturkan, untuk mewujudkan tantangan-tantangan tersebut, pihaknya sudah merencankanan dan menjalankan berbagai program, salah satunya perbaikan infrastruktur. Baginya kesiapan infrastruktur akan menunjang berbagai perbaikan dan peningkatan pelayanan dari Perumda Tirta Pakuan.

“Bicara perbaikan servis, tentu kita harus siap infrastruktur dulu. Mulai dari layanan, jumlah pelanggan baru, sumber air baku dan lainnya, tentu kita harus siap itu dulu. Memang kalau bicara pipa kita, sudah 90 persen ada di seluruh Kota Bogor. Tapi tinggal jumlah pelanggan yang mau kita capai 100 persen, itu kita harus tambah berapa banyak. Apalagi bicara jumlah penduduk Kota Bogor yang 1,1 juta jiwa, kita hitung dulu tambahnya berapa,” jelas Rino.

BACA JUGA :  Mencari Rezeki Bernilai Ibadah, Ini Doa-Doa yang Dianjurkan Sebelum Memulai Pekerjaan

Terkait optimalisasi aset, kata Rino, salah satu tantangannya adalah merubah cara pandang pegawai Tirta Pakuan agar lebih punya jiwa enterpreneur. Sebab, pemanfaatan aset menjadi nilai ekonomis belum pernah dilakukan sebelumnya.

“Itu yang harus digali. Buat saya sih tantangannya hari ini aset kita itu jadi cost. Artinya kita harus merawat, menjaga batas-batas dan lainnya. Tapi kalau kita kerjasamakan, kepada pihak ketiga atau warga dengan MoU khusus, paling nggak warga atau pihak ketiga itu akan ikut menjaga aset kita,” tutup Rino. (Aditya)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================