
Siti Latifah Herawati Diah adalah wanita pribumi pertama lulusan universitas Amerika Serikat (AS) pada 1939. Pada musim panas, Siti Latifah Herawati Diah menempuh pendidikan jurnalistik di Universitas Berkeley, California.
Baik sosiologi maupun jurnalistik adalah dua bidang studi yang jarang dipilih oleh wanita kala itu. Namun, Siti Latifah Herawati Diah berhasil menyelesaikannya dengan gemilang.
Di tahun 1941 ia lulus dari studinya dan menjadi wanita pertama di Indonesia yang merupakan lulusan luar negeri. Lahir di Lingkungan Elite Pribumi Siti Latifah Herawati Diah adalah anak ketiga dari pasangan Siti Alimah binti Djojodikromo dan Raden Latip. Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) mencatat Siti Alimah, ibunda Herawati adalah keturunan bangsawan (priyayi).
Anak-anaknya sangat ditekankankan pendidikan agama Islam dan tradisi Indonesia, namun perlu merangkul gaya hidup Barat. Ini dilakukan agar mereka nantinya mampu mengimbangi intelektual para penjajah. Sang ibu juga yang memutuskan Siti Latifah Herawati Diah harus lanjut bersekolah ke AS sebagai negara yang tidak punya jajahan seperti Belanda, Jerman, atau Inggris.
Meskipun bekerja sebagai ibu rumah tangga, sang ibunda dikenal kreatif. Ia bahkan sempat mendirikan majalah “Doenia Kita” yang merupakan satu-satunya majalah wanita kala itu. Ini barangkali sedikit menjelaskan mengapa Siti Latifah Herawati Diah tertarik dengan bidang jurnalistik yang jarang dipilih oleh wanita di zaman dulu.
Sementara itu, ayah Siti Latifah Herawati Diah merupakan lulusan sekolah Dokter Stovia pada 1908. Raden Latip sendiri masih keturunan Trah Kadilangu atau Sunan Kalijogo yang merupakan salah satu walisongo, penyebar agama Islam di Jawa.
Begitu lulus dari Stovia, ia bekerja sebagai ahli medis di perusahaan tambang timah Belanda di Pulau Belitung.
Kiprah Siti Latifah Herawati Diah di Dunia Jurnalistik
Setelah pensiun dari dunia pers, ia masih terus produktif. Siti Latifah Herawati Diah masih banyak membaca, menulis, dan diskusi. Selain itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memberinya penghargaan “Lifetime Achievement” atau “Prestasi Sepanjang Hayat.” Hal inilah yang membuatnya digelari tokoh nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia meninggal di usia 99 tahun dan dikebumikan disamping makam sang suami BM Diah. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















