“Begitu juga sebaliknya notaris punya kewajiban untuk menyerahkannya,” kata Susanto.

Susanto berkilah, semua berkas dan kelengkapan pihak debitur atau konsumen  masih tersimpan di finance (pembiayaan). Sementara, terkait masalah keterlambatan akta jual beli PT Manakib  Rezeki terhadap para konsumen wewenangnya ada di pihak notaris.

“Kliennya ada keterlambatan dalam akta jual beli, karena ini ada kaitannya dengan notaris dan termasuk kelengkapan dari konsumen itu sendiri. Jadi tidak semata-mata keterlambatan ini disebabkan oleh developer, ini tidak bisa juga. Ketika hal ini terjadi, menurut kami adalah hal yang wajar, karena ini semua berawal dari konsumen juga atas berkas-berkasnya, meskipun memang diakui ada keterlambatan,” kata Susanto.

Di lokasi yang sama, Ketua RT sekaligus penggugat juga saksi, Iwan Parta mengakui bahwa dirinya memiliki nasib sama seperti para penggugat lainnya. Dalam persidangan itu Iwan mengadukan ihwal belum juga terealisasinya dari fasos dan fasum yang dijanjikan ketika penawaran unit kepada semua konsumen Cluster Alamanda. Namun, saat ini yang sedang progres hanya fasilitas jalan. Itu pun hanya beberapa meter.

BACA JUGA :  Sering Kram Kaki? Waspadai 7 Penyakit Ini sebagai Penyebabnya

“Agendanya hari ini karena memang warga kami di RT 004/007 Kelurahan Bukit Mekar Wangi dipanggil sebagai saksi dalam gugatan wanprestasi kepada pihak pengembang (PT Manakib Rezeqi) dan juga menyampaikan apa adanya terkait fasos dan fasum yang terkesan tidak ada i’tikad baik dari pihak pengembang. Meskipun terdapat musala, namun pembangunannya baru 60 persen,” kata Iwan.

BACA JUGA :  Hari Tasyrik dan Larangan Puasa: Ini Penjelasan dan Dalilnya dalam Islam

Tak hanya itu, Iwan juga mengeluhkan fasilitas toren air yang hanya memiliki kapasitas 1800  liter. Iwan menilai dengan jumlah 1800 liter tidak mencukupi untuk 300 hingga 500 kepala keluarga (KK). Kemudian, fasilitas jalan yang saat ini hanya menggunakan batu kerikil, serta masalah Penerangan Jalan Umum (PJU) juga dibuat swadaya warga perumahan.

“Sama sekali fasilitas belum ada yang terealisasi, mulai pembangunan jalan yang kini hanya sampai digerbang depan saja dan sisanya batu batu krikil. Terlebih untuk PJU juga hasil swadaya masyarakat dalam pemasangannya. Nah yang sedang progres per bulan Februari yaitu musala dan itu pun baru 60 persen pembangunannya,” tutup Iwan. (B. Supriyadi)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================