
“Adapun keluhan dari para pedang yang menjual harga di atas HET lantaran tingginya biaya operasional, terutama yang berada di desa-desa yang jangkauannya jauh dari ristributor atau agen,” ungkapnya.
Sementara itu, Sumiati (41), pemilik warung yang menjual migor di Kampung Pangradin 1, Desa Pangradin, Kecamatan Jasinga, kabupaten setempat mengaku untuk sekali belanja, dirinya terpaksa harus merogoh kocek hingga Rp 50.000.
“Kan ongkosnya ke pasar berapa, pulang pergi belanja dagangan l, habislah Rp 50 ribu sama bayar ojeg, dan itu juga belum jajannya” cetusnya. (Didin/CR)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















