
Oleh karena itu, tidak heran jika anak berambut gimbal kerap dijuluki sebagai anak istimewa, sehingga apa yang menjadi keinginannya harus benar-benar dipenuhi.

Jumlah mereka seakan menentukan tingkat kesejahteraan penduduk setempat. Semakin banyak anak gimbal di kawasan Dieng, maka akan semakin sejahtera pula masyarakatnya.
Sejak saat itulah muncul anak anak berambut gimbal di kawasan Dieng. Konon, katanya Kiai Kaladete hingga kini masih bersemayam di Telaga Balai Kambang Dieng
Tradisi ruwatan rambut gimbal menarik perhatian masyarakat umum, terlebih orang-orang dari luar daerah Dieng. Seiring berjalannya waktu, tradisi ritual yang unik ini digelar sebagai pertunjukan budaya. Kemudian hari, ruwatan rambut gimbal yang dilakukan secara massal menjadi bagian penting dari Festival Budaya Dieng (Dieng Culture Festival) yang digelar setiap tahun.
Melansir wikipedia.org, Senin (28/6/2022) tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan tradisi “Ruwatan Rambut Gimbal” sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Jawa Tengah dengan domain Adat Istiadat Masyarakat, Situs, dan Perayaan-Perayaan. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














