
Anak perempuan yang mengalami depresi cenderung lebih sering menggunakan media sosial. Sementara itu, pada anak laki-laki, kecemasan adalah penyebab dari seringnya menggunakan media sosial.
Hal ini membuktikan, penggunaan media sosial dapat memicu tingkat stres yang lebih tinggi akibat rasa takut ketinggalan.
Menurut sejumlah penelitian, F0MO juga dapat dialami oleh segala usia. Sebuah penelitian dalam jurnal Psychiatry Research menemukan, FOMO berhubungan dengan penggunaan media sosial. Namun, tidak berkaitan dengan usia atau jenis kelamin.
Dampak Buruk FOMO
Ada sejumlah dampak buruk dari fenomena Fear of Missing Out. Berikut ini beberapa di antaranya:
- Menimbulkan Obsesi
Memantau media sosial secara terus-menerus, dapat membuat seseorang menjadi terobsesi untuk menciptakan citra dan selalu tampil sempurna di media sosial.
Nah, adanya obsesi ini dapat timbul karena kamu sering melihat isi media sosial orang lain yang dianggap menggambarkan kehidupan yang sempurna.
- Menurunkan Rasa Percaya Diri
Selain menimbulkan obsesi kehidupan yang sempurna, FOMO juga dapat mengikis rasa percaya diri seseorang.
Isi dan gemerlap dari media sosial dapat membuat individu menjadi minder dan hilang rasa kepercayaan diri karena tidak bisa menyamai isi dari media sosial yang dia lihat.
- Menyita Waktu
Dampak lainnya berhubungan dengan waktumu. Ya, memantau media sosial secara terus-menerus dapat menyita dan membuang waktu.
Waktu yang dapat kamu gunakan untuk hal-hal lain seperti membaca buku, melakukan hobi, bersosialisasi, dan lainnya menjadi hilang karena perhatian teralihkan untuk media sosial.
- Menghabiskan Uang
Rasa takut ketinggalan membuat orang yang terkena FOMO berusaha untuk selalu mengikuti tren atau sesuatu yang sedang hype. Tidak jarang tren ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang diperlukan.
Sebagai contoh, kamu ikut hype membeli gawai yang baru saja dirilis. Padahal, gawai yang kamu punya masih bagus.
Hal tersebut terjadi akibat adanya rasa takut akan ketinggalan. Akibatnya, kamu akan menghabiskan uang untuk gawai yang sebenarnya tidak dibutuhkan
Cara Mengatasi FOMO
Khawatir akan fenomena ini? Kamu bisa melakukan beberapa cara untuk mengatasi gangguan FOMO, seperti:
- Ubah Fokus
Dibanding fokus pada kekurangan yang dimiliki, cobalah perhatikan apa yang telah kamu punya.
Kamu bisa mulai mengikuti akun orang-orang yang memberikan dampak positif pada kehidupan. Unfollow orang-orang yang cenderung sombong dan memberi dampak buruk pada dirimu.
- Buat Jurnal Pribadi
Sering kali orang menggunakan media sosial sebagai sebuah ‘jurnal elektronik’ untuk menyimpan apa yang sudah dilakukan atau dialami.
Namun, hal ini dapat membuat kamu berharap akan komentar orang lain terhadap pengalamanmu dan akhirnya jadi ketergantungan dengan komentar tersebut.
Cobalah untuk membuat jurnal pribadi tanpa memerlukan ‘pengakuan’ publik yang sering didapat dari media sosial. Dengan melakukan hal ini, kamu dapat terbantu lepas dari FOMO.
- Carilah Hubungan dengan Orang di Dunia Nyata
Sering kali kamu merasa kesepian dan mulai mencari hubungan dengan orang lain di media sosial.
Sayangnya, menggunakan media sosial untuk mencari hubungan belum tentu dapat berdampak baik.
Karena itu, untuk mengatasi FOMO, salah satunya caranya adalah mulai membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga dan teman.
- Fokus pada Rasa Syukur
Penelitian menunjukkan, bersyukur dapat meningkatkan semangatmu dan orang-orang di sekitar.
Meski terkesan sulit, kamu bisa mulai mencoba fokus pada nikmat yang sudah dimiliki daripada memikirkan ‘kekurangan’ (yang dapat muncul akibat membandingkan diri dengan orang lain di media sosial).
Harus disadari, apa yang dilihat di media sosial belum tentu sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kamu tidak selalu tahu cerita sepenuhnya di balik gambar-gambar yang dilihat. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














