
“Kami sedih ada ironis. Anak-anak jadi korban terkait dengan bully bahkan sampai ke arah diminta untuk melakukan hubungan yang tidak seharusnya, terutama dengan binatang,” kata Diana.
Diana mencatat, sebelum kasus ini terjadi, pihaknya pernah menerima laporan serupa soal perundungan.
“Kasus seperti ini di Tasik, kami sudah punya dua kasus yang masuk ke kami tetapi tidak sampai meninggal dunia karena cepat dilaporkannya hingga kami bisa menindaklanjutinya dengan cepat,” ucapnya.
Kasus ini, sambung Diana seharusnya menjadi pembelajaran bagi orang tua untuk meningkatkan kepekaan terhadap kekerasan pada anak. “Ini menjadi pelajaran berharga buat kita semua selaku warga masyarakat agar lebih peduli lagi dan memberi pelajaran bagi anak-anak terkait dengan bagaimana untuk katakan tidak pada kekerasan,” jelasnya.
Sebelumnya, siswa kelas V sekolah dasar (SD) berinisial F (11) di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi korban perundungan teman-temannya hingga menyebabkan meninggal dunia. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















