
Dari hasil permodelan tsunami di Jakarta, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan tinggi tsunami dapat mencapai 0,5 meter di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol-Tanjung Priok.
“Permodelan tsunami diukur dari muka air laut rata-rata (mean sea level). Dalam kasus terburuk, jika tsunami terjadi saat pasang, maka tinggi tsunami dapat bertambah,” tulis Daryono melalui akun Instagram @daryonobmkg, belum lama ini.
Selain itu, ketinggian tsunami juga dapat bertambah jika permukaan di pesisir Jakarta turun. Menurut Daryono, permodelan tsunami bersifat tak pasti (uncertainty) yang sangat tinggi.
“Hal ini disebabkan karena persamaan permodelan sangat sensitif dengan data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan,” terang Daryono.
Lebih lanjut ia menjelaskan tsunami di Selat Sunda dapat dipicu oleh erupsi gunung api dan gempa tektonik yang bersumber dari zona megathrust.
Berdasarkan catatan sejarah, tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau pada 1883 dapat menjangkau Pantai Jakarta karena tinggi tsunami dari sumbernya mencapai lebih dari 30 meter.
“Sedangkan tsunami pada 2018 lebih kecil, sehingga tidak sampai Jakarta,” jelas Daryono. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















