
“Kami memanfaatkan lahan terlantar untuk bersama-sama warga di perumahan MBR mengelola sampah dari 3 RW secara terpadu,” katanya.

Keterpaduan itu yang membuat tempat ini multi fungsi. Selain mengolah sampah, juga ada kegiatan menanam sayur termasuk bawang merah, memproduksi pupuk organik, mengembangkan maggot sampai beternak lele dan burung puyuh.
Tetapi setelah lebih dari 10 tahun beroperasi, menurut Bandung, TPST3R MBR juga telah berfungsi sebagai sebuah learning center.
“Alhamdulillah, kami telah memperoleh banyak kepercayaan dari tamu berbagai kalangan untuk mempelajari berbagai hal disini,” katanya.

Mulai dari lembaga-lembaga pemerintah, para pelajar, mahasiswa sampai komunitas-komunitas sejenis.
Mereka tidak hanya tamu dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, seperti Australia dan Korea Selatan.
“Baru-baruini kami jugamenerimakunjunganbelajarmahasiswadariNatinal University of Singapore,” katanya.
Mereka yang datang dalam dua gelombang antara lain mempelajari manajemen urban farming. Terakhir juga datang rombongan mahasiswa dari Malaysia. Sedangkan dari dalam negeri, selain IPB, juga ITB dan UI serta UIN Jakarta. Sebagian dari mereka juga melakukan penelitian-penelitian.
Menurut Bandung, pencapaian kinerja TPST3R MBR hingga sejauh ini tak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Bogor. Namun yang tak kalah penting adalah adanya semangat kebersamaan, kerjasama dan kekompakan diantara sesame warga perumahan MBR. Inilah keunikan yang dimiliki TPST3R MBR, bagaimana kebersamaan antar warga bisa terkelola denganbaik.
“Semoga kami bisa mempertahankan ke-guyuban ini, untuk bisa menghasilkan banyak kemanfaatan bagi kami sendiri maupun warga Kota Bogor lainnya,” harap Bandung. (Advertorial)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















