
Komisaris Polisi Kobi Shabtai mengeluarkan pernyataan yang meminta warga Israel yang memiliki lisensi senjata api untuk membawa senjata mereka.
Penembakan itu terjadi setelah berbulan-bulan kekerasan meningkat di Tepi Barat yang diduduki.
Serangan telah melonjak ke rekor tertinggi di sana dalam beberapa bulan terakhir, dengan pejabat kesehatan Palestina melaporkan awal tahun 2023 menjadi yang paling mematikan bagi warga Palestina dalam setidaknya 20 tahun.
Hampir 90 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak awal tahun ini. Selama waktu itu, 16 orang tewas dalam serangan Palestina terhadap Israel.
Sementara itu, militer Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza menyusul serentetan serangan roket ke Isarel itu.
Daniel Levy, presiden Proyek AS/Timur Tengah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kekerasan kemungkinan akan meningkat kehancuran lebih parah.
“Penolakan tanpa akhir atas kebebasan dan hak-hak warga Palestina di bawah pendudukan hidup di bawah rezim Israel yang represif pasti akan menyebabkan orang mengambil bentuk perlawanan,” kata Levy.
Meningkatnya ketegangan terjadi setelah pasukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki secara berturut-turut minggu ini.
Menembakkan granat kejut dan menyerang warga Palestina saat mereka berkumpul untuk sholat tarawih di bulan Ramadan 1444 H.
Serangan Israel di Lebanon selatan yang digambarkan oleh para analis sebagai kekerasan perbatasan paling serius sejak perang Israel tahun 2006 dengan kelompok Hizbullah.
Atas kejadian itulah muncul para penembak misterisu dan menimbulkan korban dua warga Israel tewas tertembak. (*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















