
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri pertiwi. Mari mandi dan gosok gigi.
Setelah itu kita berjanji, tadi pagi, esok hari atau lusa nanti. Garuda bukan burung perkutut.
Sang saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut.
Yang hanya berikan harapan, yang hanya berikan khayalan. Luar biasa kan, keprihatinan dan harapan dari seorang maestro Iwan Fals terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Itulah Iwan Fals memberikan kritik sosial dan politik yang mengena saat itu. Dan syair tersebut terbukti sampai sekarang.
Yaitu masih banyaknya kutu-kutu di sayapmu, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya korupsi di NKRI.
Juga masih adanya benalu ditiangmu, hal ini ditunjukkan dengan adanya mafia di berbagai bidang dan para oligarki yang menguasai ekonomi, hukum dan politik.
Sehingga banyak Undang-Undang dan peraturan yang pro ke oligarki di banding ke pro rakyat.
Sampai Prof. Syafii Antonio mengatakan 1 % jumlah penduduk Indonesia (oligarki dan orang kaya) menguasai 48 % kekayaan bangsa Indonesia.
Ayo mulai sekarang jangan hanya berteriak saya Indonesia atau saya Pancasila.
Tapi ayo berlomba-lomba yang terbaik sesuai fungsi dan kemampuan kita masing-masing untuk mengamalkan sila-sila dari Pancasila. Jayalah Indonesiaku. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















