
Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)
MESKI masih kontroversial penetapan hari lahirnya Pancasila pada 1 juni, karena ada yang berpendapat termasuk penulis.
Hari lahirnya Pancasila lebih tepat pada 18 agustus, karena Pancasila yang berlaku sekarang ini.
Sesuai dengan Pancasila yang ditetapkan pada tanggal 18 agustus. Ok untuk sementara kita tidak mau berdebat tentang hal ini.
Karena pemerintah telah memutuskan bahwa hari lahirnya Pancasila itu 1 juni, titik gak pakai koma.
Kecuali nanti kekuasaan berubah, karena suka tidak suka sejarah itu dipengaruhi oleh politik dan kekuasaan.
Kembali ke judul di atas kata penyanyi legendaris Indonesia bahwa Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut (judi togel maksudnya).
Kata-kata tersebut terpadat dalam syair lagu Iwan Fals yang berjudul “Bangunlah Putra Putri Pertiwi”. Baiklah kita simak dan cermati syair lagu tersebut.
Sinar matamu tajam tapi ragu. Kokok sayapmu semua tahu. Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan.
Kuat jarimu jika mencengkeram. Bermacam suku yang berbeda bersatu dalam cengkerammu. Angin genit mengelus merah putihku.
Yang sedikit berkibar malu-malu. Merah membara tertanam wibawa. Putihmu suci penuh kharisma.
Pulau-pulau yang terpencar bersatu dalam kibarmu. Terbanglah garudaku singkirkan kutu-kutu di sayapmu.
Berkibarlah benderaku singkirkan benalu di tiangmu. Jangan ragu dan malu, tunjukkan pada dunia sebenarnya kita mampu.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi, bangunlah putra putri pertiwi. Mari mandi dan gosok gigi.
Setelah itu kita berjanji, tadi pagi, esok hari atau lusa nanti. Garuda bukan burung perkutut.
Sang saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut.
Yang hanya berikan harapan, yang hanya berikan khayalan. Luar biasa kan, keprihatinan dan harapan dari seorang maestro Iwan Fals terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Itulah Iwan Fals memberikan kritik sosial dan politik yang mengena saat itu. Dan syair tersebut terbukti sampai sekarang.
Yaitu masih banyaknya kutu-kutu di sayapmu, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya korupsi di NKRI.
Juga masih adanya benalu ditiangmu, hal ini ditunjukkan dengan adanya mafia di berbagai bidang dan para oligarki yang menguasai ekonomi, hukum dan politik.
Sehingga banyak Undang-Undang dan peraturan yang pro ke oligarki di banding ke pro rakyat.
Sampai Prof. Syafii Antonio mengatakan 1 % jumlah penduduk Indonesia (oligarki dan orang kaya) menguasai 48 % kekayaan bangsa Indonesia.
Ayo mulai sekarang jangan hanya berteriak saya Indonesia atau saya Pancasila.
Tapi ayo berlomba-lomba yang terbaik sesuai fungsi dan kemampuan kita masing-masing untuk mengamalkan sila-sila dari Pancasila. Jayalah Indonesiaku. ***
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















